Wednesday, November 11, 2009

Kasus negara ini makin seperti film India aja sih...

Udah beberapa minggu ini stasiun televisi di Indonesia ramai dng kasus AA, kpk vs polri.
Jadi bingung mau ngikutin kasus yg mana. Untung aja sering baca komik2 detektif, sedikit bs membuat praduga, tapi yg blum bisa dibuktikan karena aku tak punya wewenang itu.

Kasus AA.
Wah sungguh aneh jika seorang ketua kpk tiba2 kepincut seorang R yg cuma cadi, kalo di film india nih pasti nyanyi dh.
Kalo difilm india pasti ceritanya cewenya di umpetin trus cwonya dijebak, penjahatnya minum2 bareng komplotannya sambil nyanyi2 ditemenin cwe2 seksi, wkwkwk.

Kasus kpk vs polri.
Kasus ini lebih besar lagi dh, gak tau apinya muncul darimana tau2 udah berasap aja. Wah pasti nih ada inspektur vijay nya yg dikejar2 polisi yg ngumpet2 cari bukti temani sang kekasih. Sambil sesekali bernyanyi dan menangis mengatasi kebosanan ketika mencari bukti.

Kalo diliat sidangnya antasi dan dibuat film india pasti ada adegan kaya gini
"tidak yang mulia, dia berbohong, dimerencanakan membunuh suamiku. Pasti dia yg menjebak suamiku. Yang mulia aku bersumpah atas manggal sutra ini."( kalo yg jd saksinya istrinya AA)

ketika R bersaksi: "hiks..yang mulia saya bersumpah kalau dia yg merayu saya dan merencanakan membunuh suami saya" memberi kesaksian dng baju bagus n makeup tebal

wkwkwk...jadi inget film india zaman bahela.

Tuesday, November 10, 2009

Gak dihargai

Walau pagi ni cerah banget dan semalem suasanya enak bngt buat tidur tapi gak bisa menikmati gara2 satu masalah. Arkh...

Perketat peraturan dan pertegas sikap harus dilakukan secepat mungkin, jangan salahkan gw ma yg laen nanti kalo kesannya jadi kaya rampok yg melihat emas permata ditoko.

Apa mereka gak tau kalo pengorbanan kita juga gak kalah besar dari pengorbanan mereka, duh big bos ada2 aja c,, kalo gak mau dukung yah bubarin aja sekalian biar nanti gw ma yg laen buka yg baru.

Sunday, November 1, 2009

Aku mencintaimu bukan dengan nafsu tapi dengan rasa kemanusiaan

Siang itu sungguh masih terasa menyenangkan bagiku, bertemu denganmu dan bersenda gurau denganmu. namun setelah itu perasaanku menjadi gelisah dan tak menentu. melihat kepergiannya jauh di depanku membuat aku merasa tak akan sama lagi hari esok dengannya.

Purnama semakin meninggi, senyum yang seharusnya aku pancarkan dengan ikhlas kini tak ada rasa bahagia lagi didalamnya. kau menjauh deriku dalam hitungan jam, kini kau begitu jauh dariku. dan aku tak tahu apakah kau terus menjauh, aku hanya bisa berusaha tersenyum padamu, tersenyum agar kau dan hatiku tak merasa risau dengan keadaan ini.

aku masih ingat semua tentang kita.

sore itu aku duduk menikmati angin sore bersama seorang sahabatku, kau datang dan tersnyum padaku, mengulurkan tanganmu dan menanyakan namaku. aku tertawa dan aku ucapkan kata-kata sinis padamu, tapi hanya bercanda dan aku ulurkan tanganku padamu dan sebutkan namaku.

kau hilang dan tak berkabar.

kau kembali dan menceritakan banyak hal padaku.
mengingatkanku akan banyak hal, kewajibanku, hakku, kenanganku, kau membangkitkan semangatku, kau ukir cita-cita bersama ku, sebuah tempat pendidikan dengan fasilatas yang berbeda dengan yang lain, pergi menjauh dari kehidupan normal dan berpetualang.
tapi sadarkah kau aku seorang perempuan, tak dapat aku bergerak bebas tanpa perlindungan seorang laki-laki.

perlahan kau mulai memberiku perlindungan, memberiku banyak perhatian dan memberiku banyak waktu. bahkan kau membuka banyak pintu rahasia untukku.

Kau adalah kunci untukku.

aku masih ingat ketika kau diam-diam minum obat dibelakangku, menyembunyikan tentang hal keadaanku dengan sebaik-baiknya. aku tak akan memaksa kau bercerita padaku, aku yakin kau memberiku banyak kepercayaan termasuk tentang hal rahasia sekalipun.

kau datang sore itu, walau lelah kau tetap datang dan menemaniku. saat itulah aku ingin menangis dipelukmu, menangisi diriku sendiri yang yang bisa membantumu dan menjagamu.

aku ingat betul kau begitu marah beberapa hari itu, hingga aku paksakan kau menjawabku dengan sebuah keadaan yang memaksa. malam itu, kau gundah begitu juga denganku, kau memberiku kesempatan untuk terus bersamamu. baru beberapa hari kau memberiku sebuah pesan yang memberi kesan kau akan pergi menjauh dan tak bertemu lagi denganku. sungguh aku ingin menangis tapi aku sembunyikan air mataku dalam gelapnya malam. tak tahukah kau aku menagis ketika disisimu malam itu?

mungkin kau tak akan pernah tau.

semakin kau menjauhiku semakin aku punya tanggung jawab atasmu, aku ingin sekali membantumu melewati semua kesusahan tapi tak ada maksud untuk merendahkanmu sedikitpun, aku mencintaimu bukan dengan nafsu tapi dengan rasa kemanusiaan.

kini kau meminta waktu dariku, akan kutunggu kau hingga kembali memberiku kesempatan membantumu. sekali lagi aku mencintaimu bukan dengan nafsu tapi dengan rasa kemanusiaan.

Beri aku kesempatan membantumu lagi, aku ikhlas.