Kisah Pendekar Bocah Nakal 1

A.          Perkenalan

Laki-laki kira-kira berumur 25 tahun dengan bergaya layaknya sopir-sopir yang sedang makan di warteg, mengangkat satu kakinya ke atas kursi, sambil memasang tampang sangar yang ternyata menahan pedas dan kenikmatan makanan yang disantapnya yaitu sepiring nasi dan beberapa jengkol balado yang berpadu dengan sambel terasi.

 Keluar suara dari tenggorokannya ketika selesai menyantap semua butiran nasi di piringnya dan menenggak segelas teh tawar. Ia menurunkan kakinya dari bangku panjang yang ia duduki, menyenderkan tubuhnya di tembok dan mengelus perusnya. Sejenak ia memejamkan mata sambil menikmati dan mensyukuri bahwa ia dapat makan siang itu. Sambil tersenyum ia membuka matanya lalu mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus rokok yang ada dikantongnya, menyalakannya dan menghisapnya dalam-dalam sambil menikmati aroma dari rokok yang dihisapnya. Ia menghebuskan asapnya dan menyapa ibu pemilik warteg, "berapa semuanya bu?"

Sebentar laki-laki yang duduk tak jauh darinya mengintipnya dari rak kaca berisi makanan, dengan wajah penasaran yang benar-benar dapat dibaca oleh ibu pemilik warung. "ada apa bang? Kok ngeliat abang itu sampai seperti itu? "

"Ada apa bang liatin saya seperti itu? "
"Rokoknya apa tuh bang? Kok baunya enak betul. "
Dengan senyum  ia berbicara,"Ah perasaan abang aja kali, berapa semuanya bu? "
"Cuma tujuh ribu bang. "setelah menyerahkan uangnya ia pergi keluar warteg, menghirup dalam-dalam udara siang itu, terasa berbeda karena siang itu sedang mendung jadi terasa benar kesegaran air yang akan jatuh di bumi.

Sebuah motor membunyikan klakson dari arah belakang, “Siapa sih? Ganggu aja.” Begitu ia membalikkan badannya pengendara motor tersenyum dibalik helm. Ia membalas senyuman itu lalu mendekati pengendara motor itu dan memberinya isyarat untuk memberikannya kesempatan mengendarai motor itu.
"Kemana saja selama ini?" tanya pemilik motor  itu dengan sedikit mesra sambil memeluk  pinggang laki-laki itu.
“Aku kira elang yang satu ini sudah melupakan pemiliknya.”
“Ah bagaimana mungkin aku melupakanmu. Aku sangat rindu padamu.” Pemilik motor itu membuka helmnya baru tampaklah ia seorang gadis.

D  M  N

Malam datang, ia tak keluar kamar hingga jam di atas meja kecil dikamarnya menunjukkan pukul 22.00 wib. Ia memakai celana pangsi dan jaket hitam untuk menutupi tubuhnya dari udara dingin, ia juga melilitkan sarung kumalnya di lehernya. Bersiap beraksi ia malam itu, tanpa mengendarai motornya ia berjalan cukup jauh kearah sebuah lapangan yang dekat dengan perkebunan penduduk. Sangat santai ia berjalan, kadang- kadang ia berhenti memperhatikan langit malam dan kembali melanjutkan perjalannya kembali. Tibalah ia di sebuah lapangan, ia mendekati sebuah pohon dipinggir lapangan lalu bersiul tiga kali, siulannya melengking bagi orang yang ditujunya tapi tidak terdengar bagi orang lain, beberapa menit kemudian telah berkumpullah 10 orang remaja laki-laki mengelilinginya. Setelah bersapa tegur mereka menuju tengah lapangan. Setelah berdoa yang dipimpin ia sendiri terlihat ke sepuluh pemuda itu termasuk dirinya bergerak meregangkan otot. Ia melemparkan jaketnya ke bawah pohon berserta sarung yang tadi dililitkan kelehernya. "Mari mulai! " serunya kepada 10 pemuda.

Perlahan tanpa mengganggu mereka bergerak silat 2 orang bapak-bapak lewat dipinggir lapangan.
"Pak mukmin, sejak kapan disini ada berlatih silat? " tanya seorang lainnya.
"Setauku sudah beberapa bulan lalu, atas izin pak RW. Memangnya pak Anto tidak tahu ?"
"Tidak, siapa yang melatih? Apa dia salah satu warga kita? "
"Ya, itu loh pak anak muda yang mengontrak dirumahnya pak Unding. kalo kata anak saya di dijuluki Pendekar Bocah Nakal. Dasar anak muda ada-ada saja. "
"Oh, saya baru tahu pak.em..." Tampak pak Anto memikirkan sesuatu.

Tanpa menghiraukan apapun yang terjadi malam itu ia terus memberi pengarahan-pengaran kepada anak latihnya, suaranya sangat lembut berusaha menyentuh relung-relung hati ke 10 pemuda tapi terdengar begitu tegas dengan intonasi yang sedikit naik turun disesuaikan dengan kata-kata penting yang ia ucapkan.

Tampak kesepuluh pemuda sedikit bingung dengan penjelasan dan pengarahan yang diberikan oleh pendekar bocah nakal, tapi mereka berusaha melakukan apa yang mereka tanggap, karena mereka tau bahwa pemuda yang dihadapan mereka ini adalah seorang yang tulus mengajarkan ilmunya.

“Bang, ngencengin badannya gimana?”
“Lah elu udah lama latihan masih kagak ngerti aja dah. Sit up, pust up dan pul up masing-masing lima puluh kali dulu dah buat lu. Dasar gemblung.”
“Hahaha…” Yang lainnya tertawa.
“Jangan pada ketawa lo pada tar gw suruh berendem di rawa pada tau rasa lo.”
“Iya bang maaf.”

Terdengar sayup-sayup suara siulan panjang di telinga mereka semua, sebuah siulan yang seperti orang mengalunkan untaian nada. Sekilas terlihat pendekar bocah nakal tersenyum dan ia membalas siulan tersebut.

"Ayo lanjutkan, jangan hiraukan apapun jika kalian ingin menguasai latihan kali ini. " pendekar bocah nakal memberi peringatan kepada 10pemuda.

Mereka saling berbisik, “Paling yang tadi bersiul pacarnya si abang.”
“Bisa jadi, lah abang aja sampe senyam senyum begitu.”
“Hehehhe”
“Ranu dan Lipa, kemari kalian, mau tau wajah pacar saya? Nanti saya kenalkan tenang saja, ayo kalian kuda2 selama satu jam.”
“Wah kena hukuman dah kita.” Ujar Lipa.

Langit semakin kelam, malam pun semakin dingin. Pendekar bocah nakal menghentikan latihannya dan menyuruh para muridnya untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang ia bersiul 3x, memberi tanda kepada seseorang. Sambil tersenyum ia menunggu dibawah sebuah pohon. Lalu datanglah seseorang menghampirinya, langsung memeluknya dan memegang tangannya.

“Kita pulang?” Tanya Pendekar bocah nakal.
Yang lainnya menggeleng, “Jalan-jalan yuk.”
Pendekar bocah nakal merangkulnya dan mengajaknya jalan, “Mau dengar ceritaku akhir-akhir ini?”
“Tidak, ceritakan tentang gelarmu. Aku suka mendengarnya.”
“Hahaha…tetap menjadi favorit ya cerita ini.”
“Dari sanalah kita bertemu bukan?”
“Hahahaha…”

D         M       N

Andira malam itu berjalan sendirian, mencari hiburan dan kesenangan. Ia tak tahu pasti apa yang dicarinya. Ia terus saja berjalan diantara keramaian, sesekali ia berhenti dan membeli cemilan. Tanpa sadar ia sampai di sebuah lapangan.

“Dimana nih?” Andira memperhatikan sekelilingnya, “Ih nyasar dimana nih?” Andira terlihat bingung.
“Ehem…”
Andira yang kaget dengan deheman itu langsung meloncat menjauh dari posisinya dan memasang sikap, Andira mengira itu adalah orang yang berniat jahat.
“Siapa?” Tanya Andira tegas.
“Tidak usah takut, sedang apa sendirian disini?”
“Kau sendiri sedang apa? Siapa kamu?”
“Kenalkan dulu dirimu baru aku kenalkan diriku.”
“Elang, panggil saja aku Elang. Kau?”
“Raja. Mari aku antar kau kejalan raya.”
“Kau jalan duluan.”
Raja tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu berjalan didepan Andira.
“Baru kali ini aku bertemu gadis yang asik berjalan hingga tak tahu kalau ia tersesat.” Komentar Raja.
“Aku sedang mencari ketenangan.” Ucap Andira disela mulutnya yang masih mengunyah jajanan.
“Oh iya? Gak takut berjalan sendirian?”
“Gak ada yang bisa aku percaya untuk menemaniku.”
“Mungkin aku akan sedikit telat karena mengantarmu dahulu, tapi tidak apalah daripada aku harus bertanggung jawab dan hatiku tak tenang bila terjadi sesuatu padamu.”
“Jika kau mau tinggalkan saja.”
“Ah janganlah. Apa kau mau menemaniku, hari ini ada tantangan untukku? Setidaknya aka ada yang menemaniku selain orang-orang tua disana.”
“Tantangan apa? Menarik.”
Raja menghentikan jalannya, menunggu Andira sejajar dengannya.

Sepanjang jalan Andira hanya terdiam mengikuti Langkah Raja yang kadang cepat tapi kadang sangat lambat sambil sesekali Raja menceritakan kisahkan. Mereka saling berbagi cerita dan tawa, saling mengenalkan diri lebih jauh hingga langkah mereka terhenti disebuah lapangan, lapangan yang jauh lebih tertutup dari lapangan yang tadi. Di lapangan ini begitu banyak pohon besar yang mengelilinginya bahkan ada beberapa rumpun bambu yang turut menutupi lapangan itu.

“Ih serem.” Celetuk Andira.
“Tidak ada apa-apa, mari masuk, aku sudah ditunggu.”

Andira tanpa sadar memegang erat punggung jaket Raja. Ia menahan napasnya pelan hingga tak bersuara. Awalnya Andira tidak sadar bahawa dilapangan yang gelap itu telah hadir beberapa orang tapi ketika Raja menyalakan beberapa obor yang terpasang disana barulah ia melihat beberapa orang laki-laki berpakaian hitam berdiri dan duduk diantara pepohonan.

“Malam semua, ada apa kalian mengajak saya kemari? Maaf saya mengajak kawan. Dia tak akan mengganggu sedikitpun.”
“Hah…takut kau sendirian menghadapi kami?” Jawab laki-laki yang tubuhnya sedikit tambun dibandingkan yang lain.
“Hahahaha…jangan bercanda kalian, harusnya aku yang bertanya seperti itu, kalian hendak menghabisiku bersama-sama bukan? Mari maju satu persatu, aku akan layani.” Tantang Raja, “Elang, lindungi dirimu sendiri ketika aku menghadapi mereka.”
“Ya ya ya tenang saja, anggap aku tak ada.” Jawab Andira seenaknya, lalu segera ia mengambil posisi agak jauh dari tempat berpijaknya Raja.

Raja tak memasang kuda-kudanya, ia hanya menatap tajam ketiga lawannya. Laki-laki yang bertubuh tambun segera berjalan kearah kanan Raja, sedangkan yang bertubuh sangat kurus segera kearah sebelah kiri dan yang satunya lagi berhadapan dengan Raja. Tanpa aba-aba ketiganya menyerang secara bersamaan. Menyerang bagaian atas, tengah dan bagian bawah dari tubuh Raja. Andira cukup kaget dengan serangan yang dilancarkan musuh-musuh Raja itu. Andira sendiri sampai menahan napasnya dan melepaskan energy yang cukup banyak.

Raja tersenyum merasakan energy yang dilepas oleh Andira. Kini ia siap menerima serangan apapun, tangan kanannya menangkis si tambun dan tangan kirinya dengan cepat menangkis dan menyarang si kurus sedangkan yang menyerang bagian kakinya tak sempat ia ladeni, Raja hanya menghindar dan langsung memberikan balasan.

“Baru segitu kehebatan kalian. Sebenarnya apa yang menjadi masalah kalian hingga menantangku? Seharusnya kalian malu menantangku, menantang bocah.”
“Dasar bocah, jangan banyak cingcong, layani saja serangan kami.” Ucap Si kurus dengan lantang.

Dengan cepat ketiga menyerang Raja. Raja tak mau kalah dengan serangan ketiga laki-laki itu. Ia menangkis dan menyerang balik.

“Ah...” Gumam Andira sangat pelan.
“Hai Elang, kau sudah bosan ya?” Raja menyahut disela-sela ketika ia menyerang ketiga laki-laki itu, “Maaf rasanya harus kita selesaikan saat ini.” Raja segera menyerang mereka satu persatu dengan tenaga penuh, pada si tambun ia menendang dadanya dan langsung terkapar si tambun itu, sedangkan pada si kurus, Raja menangkap tangannya dan langsung mengunci dan mematahkannya, hingga musuhnya yang terakhir ini Raja masih siap menghadapi apapun yang terjadi. “Mari kita selesaikan.” Kini Raja yang menyerang, dengan bertumpu pada kaki kirinya ia menyerang lawannya dengan kedua tangan dan kakinya. Gerakan yang cepat dan tepat sasaran, sayang lawannya tampak kurang cermat ia hanya berhasil menangkis kaki dan tangan tangan kanan Raja, sedangkan tangan kiri Raja dengan telak masuk menyerang ulu hati laki-laki itu. Mengerang laki-laki itu lalu tiba-tiba terjatuh.

Raja langsung meninggalkan mereka dan mengajak Andira pergi.
“Memang membosankan melawan aki-aki seperti mereka. Hahaha…” Raja tertawa sendiri.
“Ih apa yang perlu kau tertawakan? Antar aku ke jalan raya.” Celetuk Andira.
“Baik.”
Sepanjang jalan Raja asik menghisap dan menghembuskan asap rokok dari mulutnya, sesekali ia dengan jail mengarahkan asapnya ke Andira hingga Andira harus menghidar cukup jauh, jika sudah begitu Raja akan tertawa terbahak-bahak. Andira yang kesal dengan ulah Raja dari belakang segera melayangkan tendangan ke pantat Raja.
“Auw…Kau gadis nakal ya?”
“Kau yang bocah nakal.”
 Raja merangkul Andira, “Sebenarnya siapa namamu?”
“Andira. Namamu?”
“Raja, tapi rasanya aku memiliki nama baru, Pendekar bocah nakal. Bagaimana menurutmu?”
“Pantas untukmu.” Andira langsung berlari ketika ia melihat jalan raya yang masih ramai.
“Sampai jumpa Andira sang Elang. Lain kali kita bertemu lagi.”
Andira tersenyum dan melambaikan tangan pada Raja.
“Sampai jumpa lagi Raja, Pendekar Bocah Nakal.”

B.       Sang Elang
“Do you want to know something?” Ucap Andira pada salah seorang temannya.
“Mau tau apa sih Andira?” Gira bertanya balik kepada Andira.
“Ada cowo menarik banget deh.”
“Wah,,,jarang-jarang nih lo cerita soal cowo. Siapa?”
“Namanya sih gak tau tapi dia gw kasih panggilan Pendekar Bocah Nakal,  baru kali ini  ketemu cowo dengan cara seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Aku nyasar malam-malam dia malah ngajak aku liat dia berantem, hebat banget dah pokoknya.”
“Ah dasar aneh kau, bertemu laki-laki seperti itu bisa menyusahkanmu.” Gira berucap serius.
“Tapi aku senang.” Andira hanya tersenyum saja,

D  M  N

“Andira.”
“Hai.”
“Mau pulang ya?”
“Ya begitulah, kamu mau pulang juga?”
“Iya, mau aku anterin pulang gak? Rugi loh kalo nolak.”
Andira tersenyum, “Oke deh aku gak nolak.”
“Oke kamu tunggu disini aku ambil motorku dulu ya, tapi jangan malu ya, motor aku jelek.”
“Tapi masih bisa jalan sampai rumah aku kan?”
“Kalo Cuma jalan doang sih sampe surga juga aku anterin.”
“Ih biar masuk surga aku gak mau mati sekarang.”
“Hahaha, iya bisa kok sampai rumah kamu.”
Setelah beberapa saat menunggu akhirnya seseorang datang dengan motor bebek.
“Jelekkan motornya, jangan malu ya?”
“Iya gak malu kok.” Andira tersenyum.
Selama perjalanan Andira terlihat akrab dengan laki-laki yang memboncengnya.
“Gimana kuliah kamu?”
“Baik.”
“Baik? Gak ada masalah sama sekali?”
“Ya kalau masalah pasti ada, tapi biasa aja masalahnya.”
“Iya masalahnya biasa tapi kamunya luar biasa.”
“Hahaha, aku gak mempan kamu gombalin.”
“Aku gak ngegombal kok tapi kenyataannya begitu.”
“Hahaha, sudah focus saja liat kedepan, aku gak mau sampai rumah sakit.”
Andira meminta menghentikan motornya disebuah rumah yang cukup bagus.
“Ayo masuk, ini rumah orang tuaku.”
“Em, aku jadi minder nih, nganterin kamu yang p0unya rumah bagus tapi pake motor butut.”
“Ah, gak usah sungkan toh ini punya orang tuaku bukan punya aku, kamu masih mending punya motor.”
“Mampirnya lain kali aja ya, kalau aku udah punya motor bagus.”
“Ih kok gitu sih ngomongnya, emangnya rumahku gak pantes buat kamu masuki?”
“Ya bukannya gitu, aku malu aja sama kamu.”
“Kok malu? Aku aja gak malu naik motor kamu.”
“Ya pokoknya aku malu aja, lain kali aku pasti mampir deh.”
“Ya deh, terserah kamu aja mau mampir kapan, asal jangan tengah malam aja, nanti disangka maling.”
“Iya aku mau maling hati kamu.”
“Hahahaha.”

Andira melemparkan tubuhnya ke kasur dikamarnya, “Ah nyamannya tiduran dirumah.” Sambil senyam senyum sendiri Andira mengingat kejadian tadi, “Ih dasar Sandika, ngapain pake malu segala sih.”
D  M  N

“Raja, jalan-jalan yuk.”
“Mau jalan-jalan kemana sih?”
“Kemana gitu, pengen jalan-jalan aja.”
“Ayo deh kalau gitu.”
Sepanjang perjalanan Andira senyam senyum sendiri mengingat saat terakhir kali Sandika mengantarnya pulang.
“Halo cantik, mau dianter pulang lagi gak?”
“Ih emangnya kamu gak ada kerjaan lain ya sampe sering banget nganterin aku pulang.”
“Kerjaan sih banyak tapi buat yang satu ini gak boleh dilupain, ayo naik.”
Andira hanya tersenyum dan langsung naik ke motornya Sandika.
“Andira, kkalau menurut kamu aku ini orang yang seperti apa?”
“Em, maksudnya?”
“Ya menurut kamu aku ini orang yang seperti apa?”
“Baik, baik sama aku gak tau deh kalau sama yang lain, hehehe.”
“Ya baik juga lah.”
“Oh bererti kamu sering dong nganterin temen-temen kamu pulang?”
“Ah gak juga, Cuma kamu kok.”
“Masa sih?”
“Ayo dong masa aku cuma baik doang, gak ada jahatnya?”
“Ya pasti ada jahatnya, kamu pilih kasih.”
“Loh kok pilih kasih?”
“Iya kamu cuma baik sama aku, gak sama yang lain, hehehe.”
“Hahaha, bisa aja kamu, aku nanya serius nih.”
“Aku juga jawab serius loh. Kadang gak perlu apa dan bagaimana pandangan orang lain tentang diri kita, yang terpenting adalah pandangan kita terhadap diri sendiri apakah kita sudah baik apa belum.”
“Em, jadi begitu ya”

Tiba-tiba Raja menghentikan motornya, “Hai elang, senyam senyum sendiri saja, sedang melamun apa?”
“Eh, gak melamunkan apa-apa kok. Loh kok berhenti?”
“Iya, habis lo gw ajak ngomong malah diem aja, eh pas gw liat kebelakang gak taunya lagi senyam senyum aja, gw kira lo kesambet setan.”
“Hahaha, mana berani setan deket gw, ka nada mbahnya setan dideket gw, hahaha.”
“Ih kalo gw setan lo juga setan dong.”
“Gak lah gw manusia, dimana-mana juga setan demennya sama manusia. Udah ah ayo jalan lagi.”
" Kau tau tidak kenapa aku tak protes dengan julukanmu kepadaku?"
Andira menggelengkan kepalanya dan menunggu kata-kata dari Raja.
" Aku memang anak nakal, kelakalan apa yang tak pernah aku perbuat," Raja tertawa, "Semua mungkin sudah aku lakukan, mencuri, mencelakai anak orang, merampok bahkan membunuh pernah aku lakukan."
Andira bergidik mendengar kata-kata Raja.
"Mungkin hanya memperkosa saja yang belum pernah aku lakukan,. memperkosa secara fisik maksudku, kalau memaksakan kehendak sudah sering rasanya."
"Aku pergi dari rumah setelah bertengkar dengan orang tuaku, aku tak pernah kapok bahkan setelah berkali-kali mereka menghukumku dengan berbagai cara, sampai pernah aku di ceburkan ke kolam ikan lele, HAHAHA..." Raja tertawa dengan kerasnya.
"Pantas ya kau tak suka ikan lele."
"Ya mungkin gara2 itu."
"Setelah kau pergi dari rumah kau tinggal dengan siapa?"
"Aku tinggal dijalanan, ngamen, jualan koran, malak, yah apa saja aku kerjakan." Raja melihat wajah Andira sebentar,"Disanalah aku bertemu guruku."
"Siapa namanya?"
"Kau tak perlu tau, ia pun sudah meninggal, mungjkin hanya ia yang sanggup menghadapiku saat itu."
"Hebat dong."
"Sangat, dia bahkan mengalahkan aku dalam beberapa gerakan setelah aku menyerangnya berkali-kali."
Andira terdiam dan bergumam, “Hidupmu berat, alam meminta upah lebih dari ilmu yang kau dapat, simpan saja sebagai rahasiamu.”

D  M  N

“Gira, lo liat Sandika gak?”
“Gak tuh, gw denger dia akhir-akhir ini jarang masuk.”
“Oh, biasanya kan rajin tuh anak.”
“Katanya lagi jadi wirausahawan.”
“Oh ya?” Andira tersenyum.
“Eh gimana kabar cowo aneh lo?”
“Cowo aneh? Siapa maksud lo?”
“Itu loh yang ketemu malem-malem waktu itu.”
“Oh dia, Baik kok.”
“Lo udah jadian ma dia?”
Andira menatap bingung ke Gira, “Kok lo nanya gitu? Orang kaya gitu lebih enak jadi temen daripada jadi pacar tau.”
“Oh, jadi gak ada hubungan apa-apa antara lo dan dia?”
“Gak ada.”
“Beneran gak ada?”
“Em, udah ah ngomongin yang lain aja.”

D  M  N

Sandika
085877xxxxx
Maaf baru kasih kabar kamu sekarang, aku lagi berusaha beli motor baru, biar gak malu kalau datang kerumah kamu, gak papa kan baru kasih kabar sekarang?”

“Lah ini orang kok nulisnya begini sih, kaya gw pacarnya aja, tapi tunggu deh, jangan-jangan dia suka beneran ma gw? Waduh, masa iya sih!” Andira bingung tapi senang membaca sms dari Sandika.

Iya gak papa kok, kamu usaha beli motornya pake cara halalkan bukan jadi maling? Hehehe, bercanda, semoga sukses deh buat kamu.”
Sent to Sandika 085877xxxxx

Sandika
085877xxxxx
Gak maling kok, aku kan cuma mau maling hati kamu, hehehe.

Kalau dimaling sih biasanya dijual ke penadah, masa hatiku mau dijual kepenadah sih?
Sent to Sandika 085877xxxxx

Sandika
085877xxxx
Gak bakal lah, hati kamu bakal aku simpen dihati aku
Ngegombal dikit gak apa-apa ya…

Hahaha, taro di lemeri es aja biar awet
Sent to 085877xxxxx

Sandika
085877xxxxx
Ya gak dong, nanti beku, malah gak bisa aku rasain lagi kehangatan hati kamu
Udah ah jangan ngegombal mulu, nanti aku gak bisa tau mana yang benar mana yang bohong
Sent to Sandika 085877xxxxx

Sandika
085877xxxxx
Yang tadi sih gak ada yang ngegombal, bener semua.

Maksudnya???
Sent to Sandika 085877xxxxx

Andira jadi beneran bingung kalau begini, “Masa sih Sandika beneran naksir gw?”

D  M  N

“Andira, ayo dong semangat latihan silatnya, biar gak mahir paling gak lo harus bisa. Masa gw pendekar tapi elangnya gak punya kemampuan.”
“Iya pak pendekar.”
Selama beberapa bulan Andira dilatih oleh Raja, baik fisik maupun teknik, walaupun Andira tak ada keinginan menjadi seorang pendekar tapi raja berhasil meyakinkannya bahwa pesilat bukan hanya sekedar bisa ilmu pukul tapi juga harus bisa ilmu kehidupan dan membaca situasi.
“Andira, kita udah kenal berapa lama sih?”
“Em, berapa lama ya, mungkin hamper setahun.”
“Oh, tapi rasanya udah deket banget ya?”
“Deketlah, kan duduknya sebelahan.”
“Gw mau cerita tentang hidup gw.”
“Ya, terserah aja kalau mau cerita.”
“Gw sih bukan orang baik, musuh gw dimana-mana. Ada yang muda sampe yang bangkotan juga ada.”
“Ih hobi banget sih lo cari musuh?”
“Hobi sih enggak tapi mereka yang anggap gw musuh.”
“Emangnya kenapa kok bisa begitu?”
“Iya banyak kenapanya. Ada yang cuma karena masalah sepele ada juga yang karena gak sengaja.”
“Ya, biar banyak musuh asal jangan cari musuh aja, cari temen baiknya.”
“Iya, makanya gw temenan sama lo.”
“Kalau gitu teraktir gw makan dong, laper nih.”
“Ayo dah kalau cuma makan doang.”






C.       Kecemburuan

"Sayang, seriuskah kamu sayang kepadaku?" Tanya seorang laki-laki yang menggandeng tangannya sepanjang jalan.
"Apa perlu kau bertanya seperti itu?"jawab sang gadis.
"Tentu perlu, walau aku menjadi kekasihmu, tapi aku merasa tak mendapat tempat cukup luas dihatimu. Lalu kau sebenarnya menganggap aku apa, menganggap laki-laki bernama Sandika ini apa?"
"Aku telah mengucapkan persetujuanku sebagai kekasihmu, lantas apa lagi yang kau inginkan dariku?"
"Andira Rayaksa, aku ingin memilikimu sepenuhnya, aku inginkan hatimu untukku, aku inginkan hidupmu untukku, aku ingikan segala sesuatu tentangmu untuk diriku."
Gadis yang bernama Andira Rayaksa itu menatap kekasihnya, Sandika.
"Berikan aku kesempatan untuk menjadi pendamping hidupmu dalam segala keadaan."
"Apa ketika nanti aku memberimu izin menjadi pendampingku, aku tak berhak mempunyai sesuatu bahkan impanku sendiri?"
"Bukan begitu sayangku, berikan aku ruang dalam impianmu, beri aku andil dalam mewujudkan cita-citamu."
“Aku mencintaimu tapi aku tak bisa melapaskan semua hanya demi dirimu, aku butuh kamu sayang. Jangan cemburu dengan keadaanku, jangan merasa tersisih dari hidupku, jangan merisaukan kedudukanmu. Kau tak akan pernah aku buang, tak akan pernah aku hilangkan. Mengertilah.”
Selanjutnya Andira tidak banyak berkata-kata sepanjang kebersamaan mereka itu.

“Andira bangun, masa jam kuliah gini lo malah tidur sih?”
“Astaga gw ketiduran ya, dosennya udah selesai ngajarnya?”
“Iya, udah keluar, ada tugas buat minggu depan, nih catetan yang tadi.”
“Ya ampun Gira baiknya kawanku yang satu ini, nanti kita kerjakan bersama ya.”
“Pasti, kau kan yang aku jadikan ketua kelompok tugas ini, hihihi.”
“Ih Gira jahat.”
“Biarin aja salah sendiri tidur pas jam kuliah. Ayo kita kekantin.”
Andira segera membereskan bukunya, akhir-akhir ini ia merasa lelah karena sering tidur menjelang subuh, menemani Raja jalan-jalan.

Sandika
085877xxxxx
Cantik udah selesai kuliahnya? Gimana kabarnya? Aku lagi diluar kota nih, mau dibawain oleh-oleh apa?”

Hai, gimana kabar kamu sendiri? Aku baik dan baru selesai kuliah jam ke-2. Kalau kamu mau kasih aku oleh-oleh sih aku gak bakal nolak.”
Sent to Sandika 085877xxxxx

Sandika
085877xxxxx
Oke, belajar yang rajin ya cantik.

“Smsan sama siapa sih lo? Sampe kaya dapet lotre gitu?”
“Lihat sendiri nih.”
“WHAT? SANDIKA? Gak salah baca nih gw?”
Andira menggelengkan kepalanya, “Kenapa? Dia baik kok.”
“Tapi lo sama dia kaya langit n bumi sayang.”
“Biar beda kaya langit dan bumi tapi bisa sama-sama bikin indah suasanakan, hahaha.”
“Lah ini orang jadi makin aneh.”

D  M  N

Sore itu Raja sengaja menyempatkan diri mendatangi Andira untuk menghilangkan suntuknya.
“Oh mas Raja, mari silahkan masuk, non Andira lagi ada tamu di ruang tv.” Ucap pembantunya Andira.
“Siapa tamunya?”
“Gak tau deh, bibi baru liat, tapi mereka akrab banget tuh.”
“Oh.”
“Mau kopi mas?”
“Oh tentu saja.”
Raja segera berjalan ke ruang tv untuk menemui Andira, tapi tiba-tiba ia berhenti dan mengintip Andira sedang bercanda dengan Sandika, “Andira, tatapan matamu mengapa seperti itu? Suka kah kau padanya?”
“Andira, aku mau ngomong serius.” Sandika mendekatkan duduknya ke Andira.
“Bicara aja.”
“Saya benar-benar jatuh hati padamu,” Sandika memandang Andira sebentar sebelum melanjutkan bicaranya, “Hanya satu masalahnya.”
“Masalah? Masalah apa?”
“Aku bukan orang kaya sepertimu.”
Andira terdiam, wajahnya terlihat serius, pandangan matanya dalam memandang wajah Sandika, “Lihat aku sesungguhnya, hanya anak manja yang hanya bisa meminta, hanya anak mama yang selalu bergantung pada orang tuanya. Lihat aku sesungguhnya yang tak lebih kaya darimu, hanya raga ini yang aku miliki.”
Sandika tercengang dengan ucapan Andira.
“Jika kau benar jatuh hati padaku, terimalah aku, dan jadikan aku orang yang patut bangga mendapatkanmu.”

Raja yang mendengar ucapan mereka berdua tercengang, serasa mulutnya membisa dan badannya kaku, keinginan hati ingin menghajar laki-laki yang mendekati Andira tapi ia tak bisa berbuat apa-apa.
“Raja apa yang kau pikirkan, kau sudah punya kekasih mengapa kau mengharapkan Andira menjadi kekasihmu juga? Ingat kau tak bisa menjangkau Andira walau kau berusa keras.” Raja berbicara sendiri dalam hatinya.
Raja segera menuju dapur.
“Bi, saya ngopinya disini aja nemenin bibi, Andira lagi sibuk pacaran kayanya.”
“Loh itu pacarnya non Andira? Bibi kira kamu dan Andira punya hubungan.”
“Ah gak kok, saya Cuma temannya Andira, mana mau Andira sama orang seperti saya.”
“Loh kenapa gak mau? Kamu kan baik.”
“Ya saya kira baik saja belum cukup untuk Andira.”

D  M  N

"Tak pantaskah aku menikmati hidupku sebagaimana orang lain menikmati hidupnya. Orang lain juga banyak membuat kesalahan tapi tampaknya tak berpengaruh pada hidup mereka kini, tapi mengapa hal seperti ini terjadi kepadaku." tak henti-hentinya hatinya berkata-kata sendiri, menyesali kesalahan yang dulu ia buat.
"Mengapa diam? Jawab pertanyaanku, kau ingin apa saat ini?" Ucap gadis berambut sebahu, Andira.
Laki-laki yang mendapat julukan Pendekar bocah nakal menggelengkan kepalanya, "Aku tak menginginkan apapun saat ini, aku hanya ingin hidup tenang dan bahagia sampai akhir hidupku."
"Ah apa yang kau bicarakan aku tak mengerti, jangan minta kebahagiaan kepadaku, minta pada kekasihmu sana." Ucap gadis itu sedikit kesal.
"Jangan marah dong sayang, mungkin aku bisa bahagia hidup dengannya tapi aku tak bisa berkata-kata sepertinya padanya, hanya pada kamu, aku bisa membuka lembar cerita hidupku." Laki-laki itu menjelaskan.
"Tapi kau akan sangat jauh denganku ketika kau bersamanya. Iya kan?" Tanya gadis itu sambil menatap muka laki-laki dihadapannya.
"Apakah kau tak akan meninggalkanku ketika menemukan laki-laki lain?" Laki-laki itu justru balik bertanya yang kemudian hanya dijawab dengan mengangkat bahunya.
“Jawablah pertanyaanku.” Raja menatap dalam matanya Andira.
“Dasar laki-laki, belum juga menjawab pertanyaanku tapi sudah mengajukan pertanyaan.” Andiran tertawa.
Tiba-tiba Raja memeluk Andira, walau Andira sudah memberontak tapi Raja tetap memeluknya, “Sebentar saja nikmati pelukanku.” Raja mengeratkan pelukannya.
“Raja, sadarlah keadaan kita saat ini.” Andira segera melepas pelukan Raja dan pergi begitu saja.
“Andira, andai kamu tau seberapa besarnya aku cemburu pada kekasihmu, kau akan menangis untukku.” Teriak Raja dan Andira berusaha untuk tak bereaksi.

Begitu dekat mereka berada tapi terasa begitu canggung walau benak mereka saling memanggil dan membutuhkan pelampiasan tapi raga mereka menolaknya dengan keras. Hanya ada diam diantara mereka.

D         M       N

Sang kekasih mendatangi pendekar bocah nakal.
"Apa tak penting kehadiranku selama ini? Apa kau sedang membalasku atas perlakuanku dulu terhadapmu?" Tanya gadis itu dengan emosi memuncak.
Pendekar bocah nakal hanya menggelengkan kepalanya saja, "Aku memilihmu menjadi kekasihku, tapi aku memberimu kebebasan jika kau tak inginkan aku."
"Jika kau menghargaiku maka jauhkan gadis itu dari hidupmu, biarkan hidupmu menjadi hidupku saja, bukan hidupnya."
"Mengapa kau harus marah terhadapnya, berbuat salahkah dia, dia juga punya kehidupan sendiri, walau ia tak menceritakan apapun kepadaku tapi aku tau ia telah menemukan,laki-laki yang membuatnya bahagia. Lantas mengapa kau marah?"
"Dia tak berbuat salah, tapi kau yang bersalah, aku mencintaimu, aku tak mungkin menyalahkanmu."
"Jadi percayalah aku tetap menjadi milikmu." Raja memandang dalam mata Jeny lalu memeluknya.


D.              Persembunyian

"Kekasihku, maaf saat ini aku tak bisa menemanimu setiap saat, aku sungguh tak bisa menjelaskan ada apa saat ini. Tapi sayang percayalah aku akan kembali kepadamu dan bertanggung jawab atas dirimu." Jeny mengerutkan keningnya ketika membaca sms dari kekasihnya, pendekar bocah nakal.
Ia tampak memikirkan sesuatu lalu mulai membalas sms yang tadi ia terima, "Jika kau tak ingin menjelaskannya padaku, aku tak akan meminta lebih penjelasan tentang itu. Hati-hati sayang dalam setiap langkahmu."
Dihadapan Andira, Pendekar bocah nakal tersenyum kecil.
"Hei mengapa kau tersenyum? Ada yang salah pada dirikukah?" Andira memperhatikan letak pakaiannya.
"Sudah cantik kok. Ingat apa yang aku bilang tadi, jangan kau katakan apapun kepadanya, jika ia bertanya, kapan bertemu denganku jawab saja minggu lalu ketika kita makan siang diluar bersamanya." Wanti-wanti pendekar bocah nakal.
"Huh...beruntung kau punya teman sepertiku yang mau berbohong untukmu." ledek Andira, "Raja," panggil Andira sedikit mesra membuat pendekar bocah nakal menatap mata Andira, "Kembali lah kemari tanpa kekurangan satu apapun, aku inginkan kau utuh kembali kepadaku, aku inginkan kau menjadi kau, menjadi dirimu sendiri." Terlihatlah kesedihan dimata Andira. Pendekar bocah nakal tersenyum, "Raja mu ini akan kembali tanpa kekurangan sesuatupun, percayalah."

Dalam jarak yang memisahkan antara Andira dan Raja, keduanya merasakan kecemasan luar biasa, apakah mereka akan bertemu kembali ataukah tak akan bertatap muka lagi. Mereka memang bukan 2 orang kekasih, dan mereka sangat sadar akan hal itu. Mereka, 1 tujuan dan 1 cita2, menjadi 1 pemikiran dalam 2 jiwa.
Raja telah menghilang beberapa hari tanpa kabar sedikitpun. Raja sadar pasti 2 gadis terdekatnya merasakan kecemasan luar biasa. Ia merasa serba salah, jika ia memberi kabar maka semua rencananya akan berantakan tapi jika tidak memberikan kabar makan kecemasan keduanya akan bertambah.
"Ah bisa gila lama-lama jika terus seperti ini." Keluhnya sambil mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan. Ia ingat sesuatu, cara paling aman menghubungi Andira, lewat email.
segara ia membuka layanan email di hpnya, ia mencari alamat email Andira dan segara mengirim pesan.

from : Rajamu sang pendekar
to :Andira sang burung elang
.....

Sebentar raja tersenyum ketika ingat awal mereka memakai nama itu,

dear  Andira sang burung elang, aku tahu kau akan tetap menjadi elangku diangkasa menjadi mata ke-3ku dan menjadi penunjuk arahku. Maaf aku belum bisa kembali saat ini, aku masih terhambat masalahku. Doakan agar cepat selesai semuanya dan aku bisa kembali menjadi Raja sang pendekar, hehhehe,,,maaf kalo kata-katanya terlalu puitis, menjadi berhati rinto kawanmu ini, hehehehehe...
tutup salamku untuk sang sahabat.

Andira membaca email dari Raja. Andira tertawa bahagia mendengar kabar dari kawannya, ia membalasnya cepat.

from : Andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar
Salam untukmu, tak usah takut pendekar kehilangan arah dan menjadi buta karena aku sang burung elang tetap bisa menjadi penunjuk dan teman berbagi cerita. Aku rasakan hatimu yang berubah rinto itu, lama sekali tak terlihat hal seperti itu padamu, merindukannya juga aku, tapi khawatir aku, kau bukan pendekar bersenjata pedang lagi tapi menjadi pendekar bersenjata kata2.
baik2lah disana.

Walau sudah lama ia yakin bahwa hal ini akan terjadi padanya, tapi tak sedikitpun ia menyangka hal ini akan terjadi ketika ia tengah berbahagia bersama kekasihnya dan sahabatnya. Ketika kehidupannya mulai membaik dan mulai jelas terarah. Hidupnya seperti hancur berantakan dan tak memiliki masa depan sama sekali. Ia merasa begitu hancur.
“Raja.” Panggil seorang laki-laki tua padanya.
“Ini saya serahkan padamu.”
“Apa ini?”
“Semoga ini bisa membantumu kali ini.”
Raja membuka bungkusannya yang ternyata hanya sebuah golok, “Huh…aku tak butuh ini. Kalau paman peduli padaku, jangan bawa aku dimasalah ini. Aku ingin punya kehidupan sendiri, aku ingin jadi orang baik-baik, aku ingin hidup baik dan bahagia seperti orang lain, aku ingin berkeluarga.” Raja melemparkan golok itu ke meja terdekatnya.
“Raja, ini sudah takdirmu.” Ucap Laki-laki yang dipanggil paman itu dengan sedih.
“Takdir? Takdir kata paman, apa aku tak berhak menguasai takdirku sendiri? Memangnya paman yang mengatur takdirku?” begitu marahnya Raja sampai-sampai ia tak sadar menendang kursi yang tadi ia duduki.
“Raja.” Panggil Pamannya pelan, “Hal ini memang sudah lama tergaris, hanya kamu yang bisa menyelesaikannya, hanya kamu yang tau apa yang harus dilakukan. Hanya kamu tumpuan kami.”
“Tapi aku ingin punya kehidupan sendiri.” Mata Raja mulai berair.
“Kami janji padamu, setelah ini kau bisa hidup bebas menikmati hidupmu sendiri.”
Raja menghela napas dan meninggalkan pamannya.

Sepanjang malam itu Raja berjalan, entah kemana ia akan berjalan, ia pun tak tahu dimana ia berada. Hatinya menangis, menjerit dan marah atas semua yang terjadi padanya. Entah dia marah pada dirinya atau marah pada orang lain. Rasanya ia tak sanggup bila sehari saja keadaannya seperti ini. Ia putus asa.
Dalam keputus asaanya itu getar Handphone mengejutkannya, ada sebuah pesan singkat. Raja segera membukanya.

Raja, kembalilah segera agar kau bisa beristirahat, besok pagi-pagi kita selesaikan semua dan kau segera bisa kembali. Paman tunggu.

Sender : 087888xxx
Paman.

Raja menguatkan dirinya, menarik napas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan rasa marah dalam hatinya. Ia segera memutar arah jalannya dan mengikuti jejak yang tadi ia tinggalkan.

E.              Pertarungan

Raja berdoa dalam hatinya, ia berharap apa yang ia pelajari dahulu tak lenyap begitu saja dan masih dapat ia pergunakan saat genting seperti ini. Ia meyakinkan dirinya sendiri dan memberanikan diri nya keluar dari persembunyian.
"aku tak akan lari darimu." ucap pendekar bocah nakal lantang.
"oh rupanya kau masih bernyali juga, pendekar bocah nakal." ucap laki2 yang lebih tua dari raja. Julukan yang aneh, tak pantas untukmu, harusnya kau bergelar bocah tengik."
raja tersenyum sinis," itu bukanlah namaku, itu hanya julukan dari orang2 yang tak mengenalku saja."
"oh berarti kau pun tak akan marah jika aku memanggilmu bocah tengik?"
"silahkan saja, tapi aku tak akan menanggapi semua ucapanmu."
"ah sudahlah terlalu basa basi, akan aku hilangkan pemilik nama raja, pendekar bocah tengik sekarang juga."
"silahkan saja aku tidak takut."
Lelaki yang kira2 seumuran ayahnya raja memasang kuda2 ringan ia hanya memiringkan sedikit tubuhnya. Raja mencoba menebak apa yang akan dilakukan lekaki itu. Ia memasang posisi seperti laki2 itu.
"silahkan anda menyerang terlebih dahulu."ucap raja sedikit menantang.
"wah berani benar kau menantangku."laki2 itu langsung maju dan mengarahkan tendangan kiri ke wajah raja.
Raja tak mengelak banyak. Ia hanya memintahkan tubuhnya kesamping dan menangkap kaki lawannya itu.
"hanya segini kemampuanmu?" ejek raja, raja memang kadang tak dapat mengontrol ucapannya, ucapan yang kadang membuat kuping lawannya memerah.
laki2 itu tersenyum sinis, ia memutar badannya dengan cepat. Melayangkan kaki yang menumpu berat badannya ke arah raja. Raja tak habis akal, kaki kiri laki2 itu masih ditangannya, tangannya mencengkram kuat pergelangan kaki itu, ketika laki2 itu melayangkan kakinya yang satu lagi, raja dengan cepat menarik kebawah kaki yang ia pegang dan mendorong searah kaki yang melayang kearahnya. Sontak saja laki2 itu terjatuh dengan tangan sebagai tumpuannya, karena ia sendiri tak mau mukanya rusak kena aspal.
"mau dilanjutkan?"tanya raja sambil melepaskan kaki laki2 itu. Raja memberinya kesempatan berdiri dan memasang kembali kuda2nya.
"boleh juga akalmu anak muda."
Raja tersenyum, " terima kasih atas pujianmu."
kini raja maju selangkah dan langsung melayangkan tangannya ke arah perut, tidak dengan tinju ia melakukannya tapi dengan totokan. Laki2 itu memundurkan perutnya beberapa senti dari tangan raja, tapi sayang itu hanya tipuan dari raja, serangan yang sebenarnya itu adalah kepretan dari raja mengarah ke telinga laki2 itu. Ia terlambat menyadarinya, tangan raja mendarat tepat di daun telinga laki2 itu. Aneh tak terdengar bunyi sedikitpun tapi laki2 itu mengerang dan dari telingannya keluar darah segar.
"hahaha..."raja tertawa lantang," hilang sudah kemampuanmu, kau sekarang tuli, tak akan bisa lagi kau mendengar suara orang berteriak," raja tertawa lagi lagi membiarkan laki2 itu merintih kesakitan.
"bocah tengik, akan aku balas kau. Sekarang dendamku benar-benar dendam kesumat, tunggu pembalasanku." ucap laki-laki tua itu ditengah rintihannya.
Raja dengan santai melenggang meninggalkan laki-laki itu sambil tertawa dan berkata "aku tak takut pada laki-laki tuli sepertimu, akan aku tunggu kau balaskan dendammu, hahaha..."
Raja menghela napas panjang ketika dirinya sudah sampai di tempat keramaian ia langsung berbaur dengan kerumunan orang yang sedang menawarkan barang dan menawar harga, ia melihat sebuah jaket yang cukup baik keadaannya lalu menawarnya dengan harga murah, jelas saja pedagang langsung mengatakan tidak karena harga yang ditawarkan Raja memang tidak jelas. Raja hanya tersenyum lalu pergi.
Getaran handphonenya membuat ia kaget, ternyata dari Andira, "raja jelek,,,berbuat ulah apalagi kau hari ini, kangen nih. Belikan aku sesuatu y..."
raja tersenyum lalu membalasnya " ulah? Tidak berbuat apa2 tuh, hanya saja bertambah orang tuli saat ini, hahaha... Nantilah aku bawakan jagung rebus, baik untuk dietmu."
Andira yang membaca sms dari raja memanyunkan bibirnya kesal karena raja menyinggung soal dietnya, "ah raja jelek berukah terus pantas kau semakin terkenal dengan jukukanmu, huh aku tak butuh jagung rebus, butuh makanan enak malam ini."
Raja tak membalas sms Andira, yang ada dipikirannya hanya kenangan masa lalu ketika ia secara tak sengaja membuat anak laki-laki tadi meregang nyawa di bilah goloknya. Memang anak laki-laki tadi itu sungguh kelewatan karena ia mencoba memperkosa seoarang gadis belasan tahun di kebun dekat tempat mereka suka nongkrong bareng, ditambah anak itu yang sebenarnya adalah teman cukup dekat dengan Raja mencoba melecehkan Andira beberapa kali. Ada rasa penyesalan dalam hatinya tapi ia pikir hal itu mungkin lebih baik daripada ada korban orang lain.







F.           Jeny dan kisah cintanya

"Raja, cepatlah siapkan dirimu, semua sudah menunggu." Seorang wanita mengetuk pintu kamar, disana Raja sedang bingung dengan hatinya, sebenarnya sudah lama ia menunggu hari ini, sudah banyak pula hal yang ia korbankan termasuk Andira, sang burung elang.
"Ya tuhan, tenangkan hatiku, bimbing hatiku, yakinkan hatiku." doa raja sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Raja menarik napas panjang dan akhirnya keluar kamar.

Akhirnya semua orang yang telah berada diruangan tempat yang akan dilaksanakan ijab  qabul merasa tenang melihat Raja akhirnya muncul dan duduk disamping Jeny, sang mempelai wanita. sekali lagi Raja menarik napas panjang dan mencoba menenangkan hatinya.
"Bagaimana Raja, apakah sudah siap?" Tanya sang penghulu.
Raja sedikit tersenyum dan kemudian mengangguk.
"Baik segera dimulai saja acaranya." Lanjut sang penghulu.
Acara dimulai dengan minta izin dari Jeny kepada ayahnya, sedikit terjadi adegan tangis dan menangisi antara ayah dan anak itu. Kejadian itu membuatnya ingat kepada Andira ketika dengan dirinya menghadiri pernikahan salah seorang kawan mereka.
"Andira, kamu kalo nikah nangis gitu juga gak?" Tanya Raja Iseng.
"Bisa jadi."
"Bakal luntur dong make up kamu, jadi pengen ngeliat kamu dandan kaya pengantin."
"Ih kok jadinya ngomongin aku sih, aku tuh yang pengen liat kamu melakukan ijab qabul."
"Ya nanti pasti kamu bakal liat."

"Maaf Andira kamu tak bisa melihat aku menikah." Ucap Raja dalam Hati.
"Mari kita lanjutkan langsung ke inti acaranya." Ucapan penghulu mengaburkan lamunana Raja.
Setelah ayahnya jeny mengucapkan Ijab, Raja langsung menarik napas panjang dan mengucapkan qabul, penerimaan atas Jeny sebagai isterinya.

"Kita hanya 3 hari disini, selanjutnya kita pindah ketempatku." Ucap Raja keesokan harinya.
"Dimana kita tinggal?" Tanya Jeny ingin tahu.
"Nanti saja kau lihat sendiri."
"Mau sampai kapan kamu seperti ini sama aku, sekarang aku sudah menjadi isterimu, bersikap baiklah sedikit padaku."
"Jeny, aku mencintaimu, tapi tak bisa semuanya kujelaskan saat ini. Maafkan aku kalau kau tak suka sikapku." Raja tersenyum dan mengecup kening jeny.

Setelah 3 hari pernikahan mereka, Raja dan Jeny segera pergi menuju rumah baru mereka, memang dipinggir kota tapi Jeny sungguh terkejut dengan keadaan rumah tersebut, rumah yang lebih bagus dari rumah yang lainnya, ada halaman dan kebunnya. jeny tak menyangka ia akan tinggal dirumah itu.
"Besok kita urus kepemilikan rumah ini, rumah ini akan atas namamu." Ucap Raja mengejutkan Jeny yang sedang terpukau.
"Atas namaku?"
"Ya."

Awal-awal penikahan semuanya terlihat baik-baik saja, Raja selalu memperlakukan Jeny bak putri dengan satu syarat jangan pernah tanyakan dari mana uang yang mereka gunakan dan apa pekerjaan Raja selama ini. Jeny hanya tau raja bekerja membuka usaha, setiap pagi hingga petang Raja bekerja untuknya. Pernikahan mereka sampailah pada puncaknya, Jeny melahirkan seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu diberi nama Dekha.
Raja sungguh menikati hari-harinya bersama dengan Jeny dan Dekha, buah hati mereka. hingga suatu saat ia membuka emailnya yang sudah lama ia  tak pernah membukanya. Ia terkejut dengan isi emailnya. Cukup banyak email dari Andira.

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Raja bagaimana pernikahanmu?

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Senangkan Jeny ya

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Sudah beberapa minggu tak ada kabar darimu, Rindu juga denganmu

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Dimana kamu tinggal sekarang

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Ingat Sandika kan, dia resmi melamarku pada orang tuaku tadi pagi, andai kau menjadi saksinya

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Pendekarku ingin bertemu denganmu

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Maaf kalo aku ganggu kamu, semoga kamu bahagia bersama Jeny

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Aku tak tahu mengapa aku kirim email lagi ke kamu, hari ini aku pilih gaun pengantinku, pernikahanku 6 bulan lagi

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Pendekarku, apa kau sudah mempunyai anak, aku bisa bayangkan lucunya anakmu, ingin aku mengasuhnya juga

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Sudah begitu lama tak ada kabar darimu, lupakah kau dengan ku?

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

4 bulan menjelang pernikahanku, harusnya kau disampingku

from : andira sang burung elang
to : Raja sang pendekar

Raja sang pendekar, masih ingatkah kau dengan impian kita, biarpun kita tak lagi berjalan beriringan aku hanya meminta padamu agar impian kita selalu tetap beriringan. Beberapa hari ini aku benar2 ingat peristiwa dulu dari awal kita bertemu dan menciptakan impian kita bersama. Semoga kau bahagia bersama Jeny.

Setelah Raja membaca email dari Andira membuat Raja berpikir ulang tentang hidupnya.
"Ada apa sayang?" Tanya Jeny sambil mendudukkan Dekha ke pangkuan Raja.
"Tolong bawa Dekha dan siapkan pakaianku, aku akan pergi beberapa hari."
"Kamu mau kemana?" Jeny mengambil kembali Dekha dari pangkuan Raja.
"Lakukan saja. Malam ini juga aku berangkat."
"Sebenarnya ada apa, kamu sampai harus pergi mendadak seperti ini." Jeny terus mendesak Raja untuk memberiktahukan alasannya.
"Jeny tolong jangan banyak bertanya, aku sedang pusing. kalau kau tak mau membereskan pakaianku, baik aku yang akan membereskannya sendiri." Bentak Raja.
"Baik akan aku bereskan pakaianmu, tapi jaga Dekha sebentar."
Raja mengambil Dekha yang menangis dari tangan Jeny, menggendongnya dan membawanya keluar rumah.
"Sayang, maafkan ayah ya, ayah akan meninggalmu dalam waktu yang lama, ayah titip ibumu ya sayang."
Jeny yang mengintip pembicaraan ayah dan anak itu menangis, ia bingung apa yang harus dilakukannya, ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Hp Raja berbunyi.
"Halo siapa ini?"
"Ini Anto bang, abang sekarang lagi dimana? disini lagi banyak yang nyari abang, katanya abang pernah bikin kasus sama mereka, katanya abang pernah ngancurin usaha mereka." Orang yang mengaku namanya Anto itu terus berkata-kata sebeum Raja berbicara lanjut.
"Orang mana tuh?"
"Orang jawa tengah bang kalo kata anak-anak sini."
"Terus mau mereka apa?"
"Bunuh abang sama isteri abang. Mereka bilang seperti itu."
Raja mematikan Hp nya. Ia berusaha tenang.

Jeny keluar menyusul Raja dan Dekha, anaknya. " Ada apa yah?"
"Sudah kau bereskan?"
"Ya, mau aku siapkan bekal juga?"
"Tidak perlu. Jeny ajaklah orang tuamu tinggal disini. tapi jangan sampai banyak orang lain yang tau."
"Sebenarnya ada apa sayang?"
"ikuti saja apa yang aku katakan. Aku istirahat dulu nanti malam aku baru berangkat, kendaraan aku tinggal dan jangan hubungi aku selama aku pergi, aku yang akan menghubungimu."
"Raja tolong katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
"Jangan banyak tanya, aku tak suka itu."
"Biar aku tebak, apa kau ingin menemui Andira? Kau rindu padanya? Kau ingin kembali padanya?" Jeny mulai kehilangan lendali atas dirinya sendiri.
Raja tak menjawab semua pertanyaan Jeny itu, dia langsung masuk ke kamar tamu dan tidur disana.
"Ya tuhan apa yang aku lakukan sehingga suamiku tak pernah menghargaiku, tak mencintaiku dan tak mempercayaiku." Ucap Jeny dalam tangisnya.