Kisah Pendekar Bocah Nakal 2


A.          Misteri Padepokan Silat Saba

Malam makin dingin, tapi tangan-tangan kekar para kuli itu tak henti bekerja, untuk munutupi rasa dingin malam itu mereka memakai baju berlapis serta sarung tangan, beberapa diantara mereka memakai kupluk melindungi kepala mereka dari dingin. Satu persatu seng yang menutupi sebidang tanah itu pindahkan dari posisinya, terlihat di balik seng-seng itu sebuah pagar yang berdiri tegak mengelilingi sebuah bangunan mewah yang dikelilingi bangunan-bangun kecil.

Malam itu sepi, hanya mungkin 3 buah motor yang melintas di jalan raya depan bangunan itu. Bila beberapa kuli sedang merobohkan seng-seng maka yang lainnya sedang mendirikan sebuah papan nama yang bertuliskan dengan huruf besar-besar "PADEPOKAN SILAT SABA".

Dua orang terlihat diantara tiang bangunan yang telah sempurna itu, "Nikmati malam terakhirmu sebagai dirimu yang lama, karena ketika matahari menebarkan sinarnya kau hanya seorang penjaga padepokan, kau harus menyembunyikan cerita tentang dirimu dimasa lalu, kau bukan dirimu yang lalu." Ucap seorang wanita yang menutupi dirinya dengan pakaian serba hitam.
"Ya, ini pilihanku sendiri, aku akan menjalankannya walau mungkin suatu saat timbul perasaan aneh karena aku bukan diriku yang dulu." cukup lama laki-laki ini terdiam lalu berbicara kembali, "Benar sudah kau siapkan semua yang akan aku gunakan sebagai argumentasi tempat ini?"
"Mari bicarakan di kantor." ajak wanita itu. Mereka berdua berjalan menuju sebuah kantor kecil berada agak dibelakang gedung.
"Ini surat-surat tentang dirimu, silahkan kau periksa dan simpan baik-baik." Wanita itu menyerahkan sebuah map kepada laki-laki itu setelah diperiksa lalu wanita itu memberikan sebuah amplop lagi.
"Sangat banyak tampaknya yang harus aku pelajari." Komentar yang laki-laki.
"Tak lebih sedikit dari apa yang harus aku pelajari selama melakukan hal ini." Balas sang wanita sambil tertawa.

Pagi telah menunjukkan kegagahannya dengan jubah cahaya matahari, langit tampak begitu mempesona dan membuat yang melihatnya begitu terpukau. Tapi mereka lebih terpukau lagi dengan tempat yang selama beberapa tahun ini tak bisa mereka ketahui apa isinya, tapi kini telah jelas apa yang ada dibalik seng-seng yang disusun tinggi itu.
"Wah, baru kali ini saya melihat padepokan sebesar ini, lebih besar dari yang berada di taman mini mungkin." Ucap seorang yang berjaket merah kepada rekannya yang ia gonceng di sepedah motornya.
"Memangnya itu padepokan? Tau darimana?" tampaknya laki-laki sebaya dengan yang menggoncengnya ini tak melihat sebuah papan nama yang memang sengaja diletakkan ditempat yang tak terlalu mencolok.
"Lihat di dekat pohon itu, ada papan namanya." ucap kawannya menunjuk ke pohon dan papan nama yang dimaksud.
"Mama liat deh itu gedung apa ma? Ada tempat bermainnya disana, ada perosotannya disana." tunjuk seorang anak kecil yang berumur kira-kira 5 tahun.
"Mama baru liat tempat ini." komentar mamanya.
"Ayo ma kita kesana, aku mau main perosotan." rengek anak itu.
"Jangan sekarang ya sayang, lihat pagarnya saja masih di gembok, darimana kita bisa masuk." Mama anak itu mencoba menjelaskan ke anaknya. Tampak sang anak memanyunkan bibirnya.

Baru sehari seng-seng yang menutupi tempat itu di buka, tetapi tempat itu sudah begitu terkenal dan menjadi buah bibir di masyarakat sekitar maupun orang-orang yang berlalu lalang didepan tempat itu. Tak hanya bentuk bangunannya saja yang terlihat megah tapi juga cerita dibalik pembangunan tempat itu, karena sedikit dari mereka yang mengetahui kapan dikirimkannya bahan bangunan dan sedikitnya informasi tentang tempat itu.

D         M       N

Seminggu kemudian dihari yang sama, beberapa pemuda gagah dan rupawan berpakaian biru bertuliskan "padepokan silat saba, membangun generasi pelajar silat", membagi-bagikan brosur kepada setiap orang dan setiap rumah yang mereka lewati.

Ibu-ibu tampak membicarakan tempat itu karena selain tempat berlatih silat tempat itu juga memiliki taman bermain untuk anak yang dapat mereka gunakan kapan saja. Sedangkan bapak-bapak justru membicarakan tempat itu sebagai sesuatu yang aneh, di zaman canggih seperti ini mana ada yang mau ikutan silat, itulah komentar diantara bapak-bapak yang berkumpul.

Anak-anak remaja penasaran dengan tempat itu, beredar kabar diantara mereka itu adalah tempat yang dibangun oleh setan, mereka juga ingin mengetahui seperti apakah rasanya melihat bangunan itu dari dekat dan menginjakkan kaki mereka di gedung luas itu.

Dalam brosur yang mereka terima dari pemuda-pemuda gagah, tertuliskan tanggal pembukaan tempat itu, selain ada upacara pembukaan yang diikuti lebih dari seratus perguruan silat ada juga pertandingan silat dan pagelaran pertunjukan silat bahkan diadakan juga kursus bagi yang berminat belajar silat hari itu.

Acara ini memberi banyak ide untuk mencari tambahan uang bagi penduduk sekitar, ada yang sudah mulai menghitung-hitung keuntungan apa saja yang mereka peroleh nanti jika berjualan disana. Pasti akan laris manis dagangan mereka dengan acara sebesar itu.

“Sejak kapan kau membagi-bagikan brosur ini?”
“Kemarin.”
“Kau yang membagikannya?”
“Aku yang membuatnya, muridmu yang membagikannya.”
“Muridku? Siapa maksudmu?”
“Ya muridmu, yang dulu kau melupakanku karena mereka.” Ucap Andira ketus.
“Maksudnya siapa? Aku tak pernah melupakanmu.”
“Mungkin bagimu tidak tapi bagiku ya.”

Arya menjatuhkan dirinya di sofa, “Aku tak menginginkan ini, kau justru akan membuka tentang diriku.”
Andira bangkit dan mendekati Arya, duduk disampingnya dan memeluk tangan Arya, “Percayalah padaku, aku ingin membesarkan tempat ini, membuat manfaat tempat ini, menjadikan banyak pemuda generasi silat, aku ingin kau tetap disampingku menjaga tempat ini dan aku ingin kau kembali membimbing mereka.”
Arya menatap wajah Andira, “Aku tak bisa secepat itu memutuskan akan membimbing mereka kembali.”
“Aku tak memaksamu, kan aku bilang aku ingin, kalau kau tak ingin, ya terserah.” Andira tersenyum pada Arya, “Gak kangen bertemu dengan mereka?”
Arya menatap Andira dengan wajahpenuh tanda Tanya.
“Temuilah mereka, kenalkan dirimu yang baru, jalinlah hubungan yang baru dengan mereka, karena bagaimanapun dulu kau telah banyak berjanji untuk mereka.” Andira mencoba meyakinkan Arya.

Arya ingat betul bagaimana ia melatih beberapa murid kesayangannya ditempat yang terpisah, tak memperkenalkan mereka satu dengan yang lainnya, bahkan ia tek pernah menyebut nama yang lain jika bersama dengan salah satu dari mereka. Arya pun ingat bagaimana kejadian-kejadian dulu yang menimpanya hingga ia harus meminta bantuan dan menjanjikan sesuatu pada mereka.
“Arya, jangan bengong, siap ketemu mereka? Aku ada janji hari ini ketemu mereka.”
“Andira, kau baru aku tinggal 3 hari, sudah banyak yang kau lakukan rupanya.”
“Mumpung kau tidak ada.” Andira tersenyum.

"Hai...sudah lama?" sapa Andira ketika melihat Afdal dan keempat temannya.
"Belum kok kak. Siapa kak?" Tunjuk Afdal ke laki-laki yang bersama Andira.
"Arya. Kenalkan nama saya Arya."Arya mengulurkan tangannya pada Afdal.
"Afdal. Yang ini Bima, Puja, Ajak, Cendil eh Reja." Afdal mengenalkan keempat temannya dan Raja menyalaminya satu persatu.
"Kalian silahkan pesan makanan, kita santai aja ya disini."
"Asik..." Ujar Bima yang bertubuh agak gemuk.
Sebelum memulai pembicaraan mereka memesan makanan.
"Kak Andira, saya jadi ingat kak Raja." Komentar Ajak.
Sebelum mengomentari ucapan Ajak, Andira melirik ke Arya dan tersenyum, "Dimanapun Raja berada, ingatlah bagaimana dia dulu mengajar kalian menjadi seorang pesilat, mengajarkan kalian tentang hidup dan membangun cita-cita. Berdoalah agar ia selalu sehat dan tetap pada pendiriannya."
Semua melihat ke arah Andira termasuk Arya, tanpa mereka sadari Arya menghapus air matanya, menarik napas dalam dengan pelan.
"Bu, kami sedang ada menu istimewa, steak dan ayam bakar asam manis. Ada juga es krim duren dan es krim bakar." Ucap seorang pelayan.
"Kalian mau?" Tawar Andira pada yang lain.
"Es bakar kayanya enak tuh." Celetuk Puja.
"Es bakar saja 5 dan es duriannya 2." Ucap Andira pada pelayan itu.
Segera setelah peninggalan pelayan itu.
"Bang Arya temannya kak Andira?" Tanya Ajak.
"Ya." Jawab Arya singkat.
"Kerja dimana bang?"
"Em..." sebelum Arya menjawab Andira segera berucap.
"Jadi Arya ini yang akan mengurus padepokan, mulai pengawasan jadwal latihan sampai perawatan dan kebersihan padepokan." Jelas Andira.
"Wah..." Afdal sedikit terkejut, "Jarang-jarang kak Andira menyerahkan banyak tugas pada orang lain, kalau ada kak Raja pasti kak Raja yang mengurusnya."
Arya tersenyum, "Bersyukur saya bisa mendapatkan pekerjaan seumur hidup dan kepercayaan dari Andira."
"Kalau dilihat-lihat bang Arya ini seperti tidak asing." Selidik Bima.
"Mungkin kita pernah bertemu, tapi tidak ingat saya." Ujar Arya.
"Kalau saya tebak, bang Arya ini pasti jago silat. Mana mungkin Kak Andira mempercayakan padepokan pada orang sembarangan, iya kan kak Andira?"
Andira tersenyum, "Ah kalian bisa saja."
"Pasti itu, ayo bang ceritakan tentang pengalaman abang belajar silat, kalau dulu kak Raja senang sekali bercerita tentang pengalamannya." Cendil yang agak pendiam turut memberi komentar.
"Ah tidak, saya tidak banyak pengalaman belajar silat. Hanya pernah belajar pada orang tua saja, tidak lama." Arya menanggapi permintaan Cendil.
"Abang harus tau bagaimana dulu bang Raja mendapakan semua ilmu, mulai dari nyasar dihutan, mendaki digunung sampai nyasar di kota orang." Celoteh Cendil.
"Oke cukup nostalgilanya, ayo kita bahas yang harus dibahas
B.       Rasa yang Tak Tertahankan

Acara peresmian telah berlangsung sukses. Pertunjukan silat yang tak sepi penonton dan peliput dari berbagai media membuat Andira puas akan hasil kerjanya. Andira sengaja mengutus seseorang untuk mengadakan konfrensi pers menyangkut acara ini, karena bagi Andira hal iini perlu diketahui orang banyak bahwa silat masih akan terus bertahan.
Arya, laki-laki yang menjadi penjaga tempat itu masih tak percaya apa yang baru ia saksikan, hal itu lebih besar daripada yang ia bayangkan. Ia masih tak percaya, tapi ada satu hal yang mengganjal dihatinya, tentang identitas barunya dan masa depannya.

"Namaku Raden Arya Moksa? Nama apa yang kau pilihkan untukku ini?" Tersenyum laki2 itu.
"Bagus bukan nama yang aku pilihkan?" Tanya Andira sambil tersenyum.
"Wah...nama apa yang kau pilihkan untukku? Nama yang aneh."
"Raja aku artikan Arya, bangsawan artinya, begitu juga dengan Raden dalam bahasa jawa, sedangkan Moksa adalah hilang, lenyap tanpa diketahui jejaknya. Seperti dirimu bangsawan dalam hatiku yang pernah hilang tapi kini kembali padaku."
"Ah kau bisa saja," Raja yang kini bernama Arya, tertawa,"Andira, terima kasih sudah membantuku selama ini." Arya memeluk andira.
Sebentar ia menikmati pelukan Arya tapi ia tersadar harusnya hal itu tak pantas dilakukan, "Jangan kau memelukku seperti itu lagi." ucap Andira pelan.
Arya jadi salah tingkah sendiri. "Jujur aku sebenarnya ingin menikahimu."
Andira menatap tajam mata Arya,"Jangan sekali lagi kamu bicara seperti itu lagi, kau sudah memiliki kehidupanmu dan aku sudah memilih hidupku."
"Jadi ini adalah rahasia kita saja?"
"Sudahlah, kita bicarakan saja bagaimana kelanjutan dari tempat ini." Pinta Andira.
"Menurutmu apalagi program yang akan kita lakukan?" Tanya Arya.
Andira berdiri lalu berjalan membelakangi Arya, "Harusnya kau yang menentukan masa depan tempat ini, kau yang membangunya dan ini adalah cita2mu."
Arya berdiri dan memeluk Andira dari belakang,"Tapi ini adalah semangatmu, hidupmu dan kepercayaanmu."
Andira melepaskan pelukan arya."Ah aku tak suka kau goda, lain kali saja kita bicarakan, Raden Arya Moksa, sang Pendekar bocah nakalku."
Arya mencium kening Andira sekali lalu beranjak pergi.
Andira tak sedikitpun menolak perlakuan Arya, hati kecilnya justru merasa terbang ke surga, betapa bahagianya ia, namun perlahan ia sadar dan menyesal. "Kenapa hal ini tak terjadi sejak dulu?"
Arya tersenyum sepanjang jalan menuju ke kamarnya, "Andira, andai saja sejak dahulu aku memberanikan diri untuk memilikimu. Pasti kehidupanku sekarang ini akan lebih bahagia."

D         M       N

Mulai pukul 5 pagi sudah ada 10 bis terpakir didepan gerbang padepokan, pedagang makanan yang melihat bis-bis itu segera mendekat dan membuat penumpang bis itu berkerumun, memilih makanan yang dijajakan oleh para pedagang. Mereka tertawa dan menikmati sarapan seadanya walau sempat kesal karena seharusnya gerbang sudah dibuka.
“Hai cepat selesaikan makan kalian dan masuk ke bis, gerbang akan segera dibuka.” Teriak coordinator salah satu bis.
“Kenapa gak bisnya aja yang masuk kita menyusul?” Tanya salah seorang penumpang.
“Perintahnya memang seperti itu, sudah cepat selesaikan makannya da masuk ke bis.”
Tepat pukul 6 pagi, gerbang terbuka. 10 bis itu segera menyalakan mesin dan masuk ke dalam area padepokan, dengan dibimbing rambu bis-bis itu parkir dibelakang gedung.”

10 orang laki-laki berjas putih memegang papan tulis dan sebuah mic berdiri di depan bis.
“Kepada yang terhormat, seluruh undangan atraksi silat pembukaan padepokan silat saba, maaf karena ketidak nyamanan menunggu diluar selama satu jam. Kami dari panitia acara mengucapkan selamat datang.” Pembicara diam sebentar menunggu seluruh penumpang turun dari bis lalu mengulangi ucapannya.

“Sudah diambilkah semua barang kalian dari bis?”
“Sudddaaahhhhh….” Jawab semua serempak.
“Silahkan berbaris menurut kelompok penampilan kalian.”

Semua segera berbaris menjadi 20 kelompok yang artinya akan ada 20 atraksi silat dari mereka.

“Silahkan kalian memasuki gedung hotel ke lantai 2, setiap kelompok akan menempati sebuah ruangan yang sudah diberi nomor dan nama kelompok, silahkan kalian beristirahat sampai jadwal acara nanti, dan silahkan dinikmati makanan yang disediakan diruangan tersebut sambil bersiap-siap untuk acara. Disana juga telah ada susunan acara. Dan saya sangat tersanjut dapat memandu kalian semua, silahkan coordinator acara antarkan semua tamu.”

Arya hanya melihat semua itu dari balik jendela kamarnya. Hari ini dia akan menyamar sebelum benar-benar tampil didepan semua orang. ia dan Andira memang sengaja melakukan itu karena takut ada yang mengenali Arya.

“Andira, aku sudah siap.” Ucap Arya ke Andira melalui handphone.
“Temui aku diruangan.”




C.       Keakraban

"Maaf pak Arya, saya bisa minta tolong?" Ucap Sandika ketika ketemu Arya.
"Ya pak Sandika, minta tolong apa ya?" Tanya Arya sedikit bingung.
"Saya minta tolong hari ini bapak menginap dirumah saya, temani Andira malam ini karena saya harus menghadiri sebuah acara sampai besok pagi. Kebetulan tadi Andira mengaku sedang tidak enak badan." Jelas Sandika.
"Gak enak badan pak? Perasaan saya tadi bu Andira baik-baik saja, tapi maaf pak, apa pantas saya menemani bu Andira, menurut saya lebih baik pak Sandika meminta adiknya bu Andira saja yang menemaninya." Arya mencoba menolak dengan halus, walau dihatinya begitu senang karena sudah lama ia tak meluangkan waktu untuk bersama Andira.
"Tenang saja pak saya percaya sama bapak, andai saja Raja masih hidup, pasti saya akan meminta dia yang menemani istri saya."
Arya cukup kaget karena Sandika menyebut namanya, Arya jadi penasaran sebenarnya apa perasaan Sandika kepadanya, "Si...siapa itu Raja pak?"
"Raja itu mungkin bisa disebut sisi lainnya Andira, tapi ia juga punya kehidupannya sendiri. Tempat ini juga seharusnya ia yang menjalankan, dulu saya sangat tidak suka kepadanya, saya sempat cemburu, tapi setelah saya tahu Raja sebenarnya, saya menyesal tak bersahabat dengannya. ah saya kok jadi curhat, sudahlah pak temani Andira malam ini. Kita berangkat bersama mari." Sandika tetap memaksa.
"Ya, baiklah kalau pak Sandika tetap memaksa, tapi ada yang harus saya selesaikan dahulu, nanti saya sendiri saja yang kerumah bapak."
"Baik kalau begitu, saya tunggu dirumah." Sandika lalu langsung menuju ke parkiran mobil.
"Ah betapa bahagianya malam ini, aku akan melaluinya bersama sang elangku, tak tahu kah kau betapa aku merindukanmu." Ucap Arya dalam hati.
Andira memanyunkan bibirnya ketika Sandika meminta izin menginap untuk menghadiri acara, "Pokoknya gak boleh."
"Ih kamu ngegemesin deh kalo lagi manyun kaya gitu, aku cium ya." Sandika mencoba merayu Andira.
"Sandika jelek, aku ngambek, gak usah pulang aja sekalian." Andira segera masuk ke kamar.
"Andira sayang, jangan ngambek dong, aku kan baru kali ini minta izin menginap, sudah lama aku tidak menghadiri acaranya. Ayolah sayang jangan ngambek, nanti Pak Arya yang jaga kamu dirumah kok." Sandika terus merayu Andira.
Andira membuka pintu, "Baik aku izinkan tapi pokoknya besok harus jalan-jalan."
"Iya deh sayang, besok kita jalan-jalan, sekarang jangan manyun gitu dong." Sandika memeluk Andira dan mencium keningnya.
"Yang, gak usah pergi deh, aku lagi pengen sama kamu nih." Andira terus merajuk kepada Sandika.
"Sayangku Andira, cintaku, manisku, kekasih hatiku, jangan merajuk kaya gini dong akukan jadi bingung." Sandika terus memeluk Andira.
"Ah kamu, kapan sih kamu dirumah, minggu ini aja kamu udah ke luar kota 3 kali."
"Tapi kan buat kamu juga, tuh mobil emang darimana kalo aku gak kerja keras, nah ini rumah kan juga dari hasil kerja keras aku, cuma buat kamu sayangku, istriku tercinta."
Andira menatap mata Sandika dalam, "Ya sudah sana pergi ngapain peluk aku lama-lama."
"Masih kangen juga sama kamu." Goda Sandika.
"Ah Sandika nakal."
Sandika mencium pipi dan kening Andira.
Setelah Sandika dan Andira makan malam, Arya baru datang.
"Wah mari masuk mas Arya, kalo dirumah panggil nama saja ya. Sudah makan malam? Kita baru selesai makan malam nih." Sandika bersikap sangat ramah, sedangkan Andira hanya tersenyum melihat tingkah suaminya, jarang-jarang Sandika bersikap ramah seperti itu pada orang lain.
"Yang, kok aku merasa cepat akrab ya sama Arya ini, makanya aku nyuruh dia jaga kamu, biar gak di gondol maling." Goda Sandika.
Andira yang tadinya tersenyum dan langsung manyun, dengan cepat dia melempar lap ditangannya ke arah Sandika, Sandika dan Arya hanya tertawa saja.
"Mas Sandika, mbak Andira gak mungkin di gondol maling, jagoan juga dia daripada malingnya." Ucap Arya turut menggoda Andira.
Andira bertambah garang mendengar Arya menggodanya.
"Ih kalian ini ya, kompak banget ngeledikinnya. Awasnya nanti aku balas."
"Wah bisa-bisa aku telat nih, sudah ya aku berangkat, Arya tolong jaga istri tercinta ini ya." Sandika berjabat tangan dengan Arya.
"Ya tentu saja." Jawab Arya singkat.
"Sayang jangan cemberut lagi dong, aku udah mau pergi nih masa masih di cemberutin aja." Sandika memeluk Andira dari belakang. Andira membalikkan badannya.
"Pokoknya besok jam 8 udah harus dirumah, jam 10 kita jalan. Gak boleh telat." Peringat Andira.
"Mas Arya boleh balik badan sebentar, lagi pengen cium istriku nih." Pinta Sandika.
Andira kaget, tak menyangka dia kalo Sandika akan berkata seperti itu pada Arya. Pasti Arya sedikit gregetan ketika Sandika berkata seperti itu.
Sandika mencium Andira dengan mesra, tak hanya pipi dan keningnya tapi juga bibirnya, mungkin sekitar 5 menitan mereka saling memeluk dan mencium dan mungkin tak akan berhenti bila Arya tiba-tiba batuk.
"Baik sekarang aku pergi, ok mas Arya jaga istriku ya."
Sepeninggalan Sandika, Andira duduk disamping Arya, memperhatikan wajah Arya yang sedikit memerah, entah karena malu atau cemburu.
Tiba-tiba Arya berkata, "Kenapa ngeliatnya kaya gitu? Em ngomongAngomong enak ya di cium Masmu?"
Andira tertawa terbahak-bahak, "Jadi kamu cemburu? Jelas enaklah, dicium suamiku sendiri."
"Ah cemburu aku."
"Hah...apa hak mu untuk cemburu?"
"Nih aku bawain jagung rebus, kamu lagi diet kan?" Arya mengeluarkan kantong plastik yang berisi jagung rebus.
"Ih aku kan lagi gak diet tau. Masa dari dulu cuma beliin aku jagung rebus doang. Arya pelit. Belikan aku rumah kamu mampu, bangun gedung kamu bisa masa beliin aku makanan cuma jagung doang."
"Ya yang murah meriah aja deh, kan uangnya udah abis udah buat beli rumah ma bangun gedung."
"Dasar Arya,,,"



D.          Ikatan hati

"Jadi kapan anakmu lahir? Aku jadi ingat anakku." Arya menghembuskan asap rokok ke atas.
"berhenti merokok didepanku, dalam beberapa hari ini anakku akan segera lahir." Andira melihat sebentar ke arah Arya, "jika rindu anakmu, temui dia, temui istrimu."
"kau tahu sendiri bagaimana keadaannya saat ini, biarlah dia bahagia dengan laki-laki pilihannya, setidaknya aku tidak akan menyakiti hatinya lagi." Arya mematikan rokoknya.
Andira mengelus perutnya, Arya memperhatikannya, "boleh aku memegang perutmu?"
Andira tersenyum dan mengangguk, "kelak ia akan menjadi pendekar hebat sepertimu."
Seperti biasa sehabis kerja sandika langsung menuju tempat Andira bekerja.
"sore mas." sapa Arya ketika sandika baru keluar dari mobil.
"sore juga mas, Andira sudah beres-beres?"
"tadi sih saya lihat sedang ada tamu, sepertinya teman-teman smanya dulu." jelas Arya.
"em..pantas ia tak meneleponku. Ya sudah saya masuk dulu ya mas."
"ya silahkan mas."
Sandika sedikit penasaran dengan tamu Andira, tak biasanya Andira menerima tamu di gedung latihan, apalagi teman selain sesama pesilat. Sandika mengetuk pintu ruangan andira dan memanggil namanya.
"Andira..."
"ah suamiku datang, tunggu sebentar ya" andira membukakan pintu.
"SANDIKA?" Ucap Fira ketika melihat Sandika.
"kamu kenal Sandika?" tanya Andira bingung, karena Fira sendiri baru kembali dari kalimantan, mengikuti suaminya bertugas.
"aku pernah bertemu dengannya beberapa tahun lalu, dia teman suamiku." jelas Fira.
"wow dunia ini sempit ya." ucap Andira sambil tertawa kecil.
sandika langsung bersalaman dengan Fira dan teman-teman Andira yang lain.
"tumben kamu menerima kedatangan temanmu disini?" bisik Sandika.
Andira hanya tersenyum.
Sebentar mereka mengobrol seputar masa lalu dan keadaan mereka sekarang. Hari semakin gelap, Sandika berinisiatif mengundang mereka makan malam diluar. Tapi tiba-tiba ketika mereka berjalan kearah parkiran mobil, Andira mengalami kontraksi. sandika dan teman-temannya Andira panik dengan keadaan itu. Sandika langsung membawa Andira ke mobil dan segara menuju rumah sakit.
Andira terus menahan sakit, sebentar ia berteriak menandakan ia sangat merasa sakit. Sandika berusaha secepatnya memacu kendaraannya. Tapi tiba-tiba Alika temannya Andira berteriak kaget karena Andira mengeluarkan darah.
Arya yang sedang solat tiba-tiba saja merasa tidak enak hati. Dia merasakan sesuatu yang tidak biasa. Segera ia keluar kamarnya dan melihat ke ruangan Andira, tapi ia tidak menemukan siapa-siapa, ia melihat ke parkiran ternyata mobilnya Sandika pun sudah tidak ada.
Andira berteriak dan kehilangan setengah kesadarannya, ia mulai bergumam, memanggil nama Arya. Awalnya Sandika tidak menanggapi gumaman Andira. Tetapi ketika sampai dirumah sakit. Andira benar-benar kehilangan kesadarannya, bayi dikandungannya terancam karena air ketuban Andira sudah pecah dan Andira mengalami pendarahan. Sandika menunggu dengan cemas bersama teman-teman Andira.
"sandika, tenanglah sedikit, andira pasti akan selamat begitu juga dengan anakmu." Fira mencoba menenangkan Sandira.
Sandika melihat Fira dengan tatapan yang tajam, "untuk apa kamu kemari? Mau menghancurkan rumah tanggaku? Kita sudah berpisah, jadi tolong jangan ganggu kehidupanku dan Andira."
Fira kaget dengan ucapan Sandika, ia tak percaya Sandika akan dengan tegas berbicara seperti itu, "maksud kamu apa? Aku kesini cuma bertemu andira."
"tak perlu banyak alasan, kau pasti memberitahunya tentang kita."
Fira tersenyum picik, "picik kau, asal kau tahu, andira sudah tau sejak beberapa bulan lalu. Dan aku sedih melihatmu, bukan kau yang dipanggil dalam ketidaksadarannya, siapa namanya? arya? Laki-laki mana itu?" Fira segera meninggalkan sandika dan teman-temannya yang lain.
Dokter keluar dari ruang operasi, "pak sandika." panggilnya.
Sandika segera mendekati dokter, " bagaimana istri dan anakku dok? Apa mereka selamat?"
dokter setengah baya itu tersenyum, "anak anda seorang laki-laki dan ia sehat, tetapi istri anda masih belum sadarkan diri, mungkin masih dibawah pengaruh obat bius."
Sandika shok mendengar kabar istrinya, ia kehilangan ketahanan tubuhnya, hampir saja ia terjatuh.
Mendengar kabar bahwa Andira telah melahirkan dan keadaan keduanya sehat, teman-temannya segera izin pulang kepada sandika.
Beberapa kali Arya mencoba menelepon ke hp dan rumah Andira tapi tak ada jawaban. Arya merasa begitu cemas, tapi ia tak tahu apa yang terjadi.
Sandika semakin khawatir dengan keadaan Andira sudah hampir dua jam setelah operasi Andira belum juga sadar. Ditambah Andira terus memanggil nama Arya.
"pak Sandika maaf sebelumnya siapakah Arya? Apa anda kenal dengannya?"tanya dokter yang merawat Andira kepada sandika.
"Arya itu salah seorang teman kami." ucap sandika singkat.
"panggil Arya kemari mungkin itu dapat membuat nyonya Andira sadarkan diri."



E.       Teman seperjalanan


"Andira, sadarlah sayang, jangan kau menyiksaku dengan melihatmu seperti ini, sadarlah dan lihat aku disini mendampingimu." Arya membisikkan kalimat itu dengan mesra ditelinga Andira.

Sandika hanya bisa melihat Andira dan Arya saling berpegangan tangan dari balik jendela pintu, menatapnya dengan rasa cemas, rasa bersalah, rasa cemburu dan bingung. Sandika tak bisa berbuat apa-apa.

Arya menutup matanya, menggenggam tangan Andira, membawa pikirannya jauh ke masa lalu.

"Raja? Benarkah ini dirimu? A...aku tak menyangka bisa bertemu kau kembali." Andira memeluk Raja dengan erat, mencium bahu dan rambut Raja, membaui Raja, ia sangat rindu dengan Raja, lama mereka tak berjumpa.

"Andira, sungguh aku tak tahu apa yang aku perbuat, aku begitu ingin bertemu denganmu. Aku rindu." Bisik Raja di telinga Andira.

Lama mereka saling melepas rindu dengan berpelukan sampai keduanya sadar dan merasa canggung.

"Andira, tetaplah menjadi sang elang bagiku, menunjukkan apa yang tak dapat kulihat, memberitahuku apa yang tidak aku tahu, membisikkan apa yang tidak aku dengar. Tetaplah menjadi sang elang." Raja berlutut di hadapan Andira.

Andira tersenyum, menitikkan airmatanya, entah apa yang ia rasakan, marah karena Raja meninggalkannya, apa ia bahagia karena kini raja kembali padanya, "Raja, pendekarku, pahlawan hatiku, tanpa kau minta aku adalah sang elang bagimu, menjadi mata ketigamu, menjadi buku wawasanmu, menjadi alat dengarmu, menunjukkan apa yang tak kau lihat, memberitahu mu apa yang tak kau ketahui dan membisikkan ketelingamu apa yang tak kau dengar. Aku Andira, sang elang dan akan tetap menjadi sang elang bagimu, dimanapun, kapanpun, terpisah sejauh apapun, dalam kondisi bagaimanapun, aku adalah sang elang bagimu."

Raja mencium kedua telapak tangan Andira dan kemudian mencium kening Andira, "akan terjadi sesuatu padaku, aku minta padamu bantu aku untuk membangun tempat yang kita inginkan, aku sudah siapkan uangnya, aku akan mentransfer ke rekeningmu jika kau menyetujuinya."

"Tidak, biarkan uang itu tetap berada padamu, apa yang akan kita lakukan saat ini?"

"Sebelum pernikahanmu kita harus sudah membeli tanah itu, akan ku berikan atas namamu agar tak ada orang yang mengganggu gugat tempat itu apalagi keturunanku. Kau mau mengikutiku?"

Andira berpikir sebentar lalu mengangguk ragu-ragu.

Setelah pembicaraan itu mereka hanya terdiam, raja menggenggam tangan Andira dengan erat, Andira merasakan ketegangan dan ketakutan dalam hati raja, entah karena apa.

"Sekelompok orang mencariku, berniat membunuhku." ucap raja pelan tapi bagi Andira itu adalah sebuah halilintar yang menyambarnya.

"Maksudmu apa? Siapa mereka? Bagaimana dengan isterimu?"

"Aku akan menceraikan istriku secepatnya." ucap Raja singkat.

"Isterimu?" tanya Andira sekali lagi.

"Lebih baik kita mencari tanah secepatnya, kalau perlu dalam seminggu ini kita sudah mulai transaksi."

"Ih...kau kira membeli tanah semudah membeli kacang goreng?" Umpat Andira.

Raja tertawa melihat Andira mengumpat seperti itu, Andira kaget, tiba-tiba Raja memeluknya, "Semua akan mudah bila bersamamu."

"Lepaskan sebentar lagi aku akan menikah."

"Aku juga sudah menikah, mempunyai anak juga. Andira kau adalah teman seperjalanku yang ada setiap saat bukan seperti cinta yang kadang datang dan pergi sesukanya."

"Raja..." Andira terbangun dari ketidak sadarannya.

F.       Pertengkaran


"Apa kurangnya aku? Aku telah memberikan kamu semua."

"Tapi kau tak mau melepaskan kehidupan lamamu kan? Kau tak bisa melepaskan Raja bahkan sekarang kamu malah menyebut nama Arya ketika kamu tak sadarkan diri. Apa kamu punya hubungan khusus dengan Arya?"

"Ya aku punya hubungan khusus dengannya, tapi hanya hubungan mengurus pedepokan."

"Bohong! Kau pasti selingkuh dengannya."

"Selingkuh kau bilang? Lantas sebutan apa untuk hubungan kau dengan wanita itu? Aku sudah tau semua, dia sudah menceritakannya padaku, apa kau mau mengelak?"

Arya yang masuk keruang rawat Andira terkejut dengan pertengkaran mereka, "Maaf aku menggangu." Arya hendak keluar lagi dari ruangan tapi segera dicegah oleh Sandika.

"Saya ingin kamu mengatakan sesuatu." Sandika menatap Arya dengan tajam, "Katakan padaku sebenarnya apa hubunganmu dengan Andira isteriku sehingga Andira menyebut namamu dalam tidak sadarnya? Katakan sejujurnya."

Sebentar Arya melihat Andira, menunggu respon darinya, tapi Andira memalingkan wajahnya dan mulai menitikkan air mata, "Jangan pernah kau ragukan kesaksian isterimu, yang rela menerima kau apa adanya, aku hanyalah seorang penjaga padepokan, laki-laki yang menerima amanat langsung dari pak Raja untuk membantu Andira menjaga dan mengelola tmpat itu."

"Raja katamu? Pantas saja isteriku memanggil-manggil namamu ternyata ada nama Raja dibalik itu." Sandika berteriak-teriak, ia sudah tak sadar bahwa itu dirumah sakit.

"Sandika dengarkan saya, saya tau bagaimana hubungan Andira dengan Raja, mereka hanya sebatas sahabat yang sama-sama membangun tempat ini, dan sekarang bila nama saya disebut-sebut oleh Andira saya tidak tahu menahu soal itu." Jelas Arya menegaskan.

Sandika justru tambah marah dengan ucapan Arya.

"Baik terserah apa maumu dan apa yang kau pikirkan, tapi pikirkan anak kita." Pinta Andira di sela tangisnya.

Sandika pergi begitu saja meninggalkan Andira dan Arya.

"Andira, ada apa sebenarnya? Kenapa Sandika marah seperti itu." tanya Arya sambil mendekati Andira yang menangis.

"Arya, pulanglah temui anakmu, ia sedang sakit, Jeny sudah tidak memperdulikannya, ambil dan rawatlah dia." Ucap Andira.

"Dari mana kau tau?"

"Sebelum aku melahirkan Jeny meneleponku, dan ingin menyerahkan hak asuhnya padaku, karena suaminya ingin ia memfokuskan diri mengasuh keluarganya sendiri." Andira menghapus air matanya, "Ambil dy atas namaku dan aku akan mengurus surat adopsinya atas namamu. Segera aku urus setelah keluar dari rumah sakit."

Arya tak bisa berkata-kata lagi, ia panik dan segera meninggalkan Andira.

G.      Arya dan Sang Putra

“Maaf saya diminta oleh ibu Andira untuk membawa Dekha.”
“Silahkan bawa saja anak itu, tapi jangan lupa bawa dia kedokter.”
Arya terlihat meradang dan sedikit marah karena ucapan wanita yang menyambut, dialah Jeny, mantan istrinya. Dengan begitu mudahnya dia tidak memperdulikan Dekha, putranya sendiri.
“Mengapa melotot seperti itu? Silahkan ambil Dekha, barang-barangnya sudah saya siapkan semua.” Ucap jenny sambil jalan mendahului Arya.
Arya menarik napas panjang ketika melihat keadaan anaknya yang tertidur, tubuhnya kurus tak seperti terakhir dia melihatnya. Arya langsung menggendong Dekha dan mengambil tas yang diberikan Jeny, “Besok siang  aka nada seorang pengacara yang membawa surat penyerahan hak asuh kepada ibu Andira, apakah anda sudah memikirkannya dengan baik?”
“Ya saya tunggu.”
“Baik, saya bawa Dekha pergi, permisi.” Arya segera pergi, tapi sebelumnya sempat berpapasan dengan suami jenny saat ini. Begitu inginnya Arya memukul laki-laki itu karena telah mensiasiakan anaknya.

“Maafkan ayah sayang karena telah meninggalkanmu, ayah bersalah padamu.” Arya memeluk Dekha dengan segenap hatinya. “Halo Andira, apa yang akan aku lakukan sekarang?”
“Arya bawa ke dokterku, lakukan yang terbaik dan siapkan tempat tidur untuknya dikamarmu.”

Arya dan Andira, kini sebagai seorang yang berperan sebagai orang tua tunggal, tanpa siapa-siapa untuk berbagi tentang hati mereka.


H.      PENGASINGAN ANDIRA

“Sandika, dengarkan mama, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Andira? mama lihat selama ini hubungan kalian baik-baik saja” Tanya Mamanya Sandika ketika Sandika termenung di depan televise.
Sandika menggelengkan kepalanya, “Biarkan aku dan Andira yang menyelesaikan ini, mama tidak perlu ikut campur.”
“mama tidak ikut campur, mama hanya ingin memberitahu mu apa yang mama pikirkan. Saat setelah melahirkan adalah masa rentan bagi seorang wanita, ia bisa saja tidak mau menyusui anaknya dan akhirnya membuat anak kalian tidak tumbuh dengan semestinya, Sandika pikirkanlah baik-baik.”Sandika mulai berpikir kembali tentang hubungannya dan Andira bahkan ia belum memberi nama kepada anaknya  yang baru lahir.

 Sudah seminggu tak ada kabar dari Sandika sedikit pun, sudah berkali-kali Andira menghubunginya tetapi sama sekali tak mendapat respon dari Sandika. Ketika Andira keluar dari rumah sakit hanya Arya dan anaknya Dekha yang menemani, Andira tak ingin keluarganya mengetahui apa yang terjadi antara ia dan Sandika maka tak sedikitpun ia member kabar kelahiran putrinya ke pada keluarga dan kerabatnya, hanya Arya yang mengetahuinya.

Arya membantu Andira memenuhi kebutuhan hidupnya dan putrinya, mengawasi Andira setiap saat sambil menjadi putra semata wayangnya yang juga bernasip malang karena di tinggal ibunya.

Sebulan telah berlalu Sandika juga tak member kabar bahkan ketika keluarga Sandika dihubungi tak ada yang bisa memberi  jawaban pasti dimana Sandika. Andira hampir menyerah dengan masalah Sandika tapi Arya terus menyemangatinya dan memberinya motivasi untuk terus bertahan demi putrinya.

“Bertahanlah Andira, demi putrimu, beri ia namamu jika ayahnya tak mau memberikan nama kepadanya, hubungi keluargamu, katakana kepada mereka apa yang terjadi, biarlah mereka membantumu untuk mencari jalan keluar yang terbaik untukmu, Sandika dan putrimu.” Ucap Arya tegas.
“dulu aku kira akan bisa hidup tanpa Sandika, tapi aku baru merasakan bagaimana beratnya berpisah dengannya. Kasian putriku, bahkan sebulan kehadirannya tak memberinya kesempatan untuk melihat ayahnya.” Ucap Andira menahan tangis.
“Aku yakin Sandika akan kembali kepadamu dan putrimu akan mendapatkan nama ayahnya, jangan kuatir sayang, semua akan baik-baik saja.”

Andira tetap kukuh untuk tidak memberitahukan masalahnya kepada orang tuanya, ia hanya mengatakan bahwa ia sudah melahirkan dan baru bisa memberi kabar sekarang.

“Arya, untuk sementara aku kembalikan tugasku kepadamu, aku akan pergi untuk sementara, menenangkan tangis mendalam putriku dan menenangkan hatiku yang rindu kepada suamiku.”


D  M  N 

Sandika hanya melamun saja seharian di terasa sebuah vila yang ia sewa, tak melakukan apapun, tatapannya kosong dan kelam. Di hatinya hanya ada sebuah kekecewaan terhadap Andira.
“Sayang tak tahukah kau bagaimana perasaanku saat ini mengetahui kau menyimpan nama Raja begitu dalam. Begitu sakit hingga setiap saat air mataku keluar tanpa aku sadari. Tak kah kau mengerti itu? Aku mencintaimu begitu dalam tapi kau malah menyimpan nama orang lain dalam hatimu.” Sandika terus bergumam mengenai kekecewaan hatinya.

Berkali-kali bell villa berbunyi, tapi tak sedikitpun menyadarkan Sandika dari lamunannya.
“Sandika kembalilah kepada Andira sebelum Andira menguatkan hatinya, kembalilah dan berikan namamu untuk putrimu.” Ucap Arya yang tiba-tiba sudah ada didekat Sandika.

“Untuk apa kau kesini? Jangan menceramaiku tentang rumah tanggaku, kau hanya orang lain bukan siapa-siapa aku dan Andira. Keluar kau dari sini!” Bentak Sandika.
“Aku tahu aku bukanlah bagian dari rumah tanggamu, aku hanya tau yang kau lakukan itu salah, aku hanya tau sebesar apapun rasa kecewamu tak ada niatan dari Andira untuk memunculkannya dihatimu, yang aku tahu kini Andira telah rapuh jiwanya, telah lemah hatinya dan telah buntu pikirannya, putrimu sendiri bahkan belum kau namai. Sadarlah Sandika, bangun dari kekecewaan hatimu, Andira membutuhkanmu lebih dari siapapun. Aku tak bisa lagi membantumu jika Andira benar-benar pergi dan menghilang, sudah 2 hari ini Andira tak ada dirumahnya, tak dapat aku hubungi dan kulacak keberadaannya. Sandika…”
“Hatiku sangat kecewa Arya, coba kau rasakan bagaimana jika kau menjadi diriku, apa kau tau bagaimana rasanya? Lebih sakit dari seribu orang memukulmu. Kau bahkan bisa hilang kesadaran dan perasaan apapun dalam dirimu. Coba rasakan Arya!”
“Sandika, aku bisa merasakan apa yang rasakan, aku juga seorang laki-laki tapi aku lebih bisa merasakan kasian kepada Andira dan putrimu. Kembalilah dan segera cari Andira.”
Sandika membuang jauh pandangannya, memikirkan apa yang dikatakan Arya kepadanya.
“Kebali pada Andira dan putrimu.” Ucap Arya meyakinkan Sandika.

D  M  N

“Putriku sayang, hari ini kau sudah berumur 40 hari, karena tak ada ayahmu,maka akan aku berikan nama padamu, Nadira. Semoga namamu membawa nasib baik untukmu, mama hanya bisa memberikan nama depan untukmu karena nama belakang adalah hak ayahmu. Putri  kecilku, hiduplah dengan tegar dan kuat, jadilah special, yakinkanlah semua orang bahwa kau benar2 seorang yang tangguh dan lemah lembut, Nadira.”
Andira telah benar-benar menjauhkan dirinya dari lingkungan dan aktivitasnya selama ini, ia mengambil semua uang ditabungannya dan pergi ke kota lain.
“Jadi sudah resmi nama anakmu Nadira?”
“Iya bu, nama belakangnya adalah hak ayahnya untuk memberikannya.”
“Andira, tidakkah lebih baik kau kembali pada suami mu?”
“Bu, aku ingin kembali kepadanya, tapi aku takut akan kemarahannya.” Andira memandang Nadira yang terlelap di pelukannya.
“Ini nasehat untukmu, kembalilah kapanku kau siap, siapkan dirimu, karena disana rumahmu.”
Andira tinggal disebuah rumah kecil yang ia sewa selama setahun, walau ia tidak tahu akan tinggal berapa lama disana, ia meminta seorang ibu penduduk setempat untuk menemani dan membantunya merawat Nadira.

D  M  N


Arya sedang asik bermain dengan dekha putranya ketika Sandika datang kepadepokan.
“Ayah om Sandika datang.”
“Sandika…”
“Hai…” Sandika tersenyum kepada Dekha, “Aku ingin bicara denganmu.”
“Dekha, Pergi ke kamar sekarang, ayah ingin bicara dengan om Sandika.”
“Baik ayah.” Dekha segera pergi membawa mainannya.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” Tanya Arya.
“Aku belum menemukan Andira sampai saat ini, aku khawatir padanya dan putriku.”
Arya tersenyum, “Mari kita bicara di kantor.” Arya berjalan duluan, sesekali ia berhenti dan menyapa beberapa orang yang sedang asik berdiskusi dan yang sedang latihan silat. Sesampainya dikantor Arya membuatkan minuman untuk Sandika.
“Aku tak bisa menympan rahasia ini lebih lama lagi.” Ucap Arya sambil menyalakan rokok, “Akan aku ceritakan semuanya.”
“Apa yang akan kau ceritakan?”
“Raja dan Andira bukan seperti yang kau pikirkan, walau mereka saling peduli namun dihati mereka telah ada orang lain yang menjadi kekasih dan kehidupan mereka.”
“Maksudmu?”
“AKU ADALAH RAJA!” Ucap Arya tegas sambil menatap mata Sandika.
“Ka…Kau Raja?”
Arya menghisap rokoknya beberapa saat lalu menghembuskan asapnya, “Aku Raja yang selama ini kau cari.” Ucapnya dengan sinis.
“Jadi kau Raja, yang telah membuat Andira mengkhianatiku?” Sandika dengan marah menarik baju Arya.
“Seharusnya aku yang marah kepadamu, karena kau yang telah merebut Andira dariku, Aku memang baru menyadarinya bahwa aku mencintainya tapi aku lebih sadar kalau Andira lebih memilih kau yang sebenarnya mungkin menyakitkan hatinya!” Ucap Arya sambil membentak Sandika.
“Apa maksudmu aku menyakiti hatinya?”
“Ia tak pernah mengeluh kepadamu atas sikapmu, atas perkataanmu atau keputusanmu, walau hatinya tak setuju tapi ia menganggukkan kepalanya dan mendukungmu, apa itu tidak menyakiti hatinya?”
“Benarkah apa yang kau katakana?”
Arya melepas pegangan Sandika, “Dengarkan Aku Sandika, aku Raja yang tetap akan ada dihatinya, tapi kaulah penguasa hati dan dirinya. Hanya kau yang dapat menemukanya, hanya kau yang tau dimana dia, carilah, dan berdamai dengan hatimu dan hatinya. Kau akan mendapatkannya kembali.”
“Tapi bagaimana bisa kau ini Raja, setauku raja tak berwajah seperti ini.”
“Ada masalah yang membuatku harus merubah wajahku, meninggalkan istriku dan akhirnya menyakitkan anakku, kau lihatkan keadaanku saat ini, aku mengikuti egoku dan akhirnya menghancurkan keluargaku, untung Andira masih bersedia membantuku membangun tempat ini, tempat yang akan aku jadikan tempat tinggalku sampai akhir nanti. Sungguh aku ingin menangis jika mengingat Andira yang menangis sambil memeluk putrimu.”
“Maafkan aku yang selama ini menganggap buruk dirimu.”
“Minta maaflah pada Andira. Carilah di kota yang selama ini ingin ia kunjungi. “ Arya diam sejenak, “CAMKAN INI DALAM HATIMU, AKULAH RAJA, LAKI-LAKI YANG IA CARI DAN CINTAI SELAMA INI, AKULAH RAJA…HAHAHA!”

“Ayah bangun ya, ayah bangun.” Dekha menggoyang-goyangkan tubuh ayahnya.
Arya bangun dengan napas yang tersenggal-senggal dan jantung yang berdegub kencang.
“Ayah kenapa?”
Arya tersenyum pada Dekha, “Tidak apa anakku, ayah hanya bermimpi buruk.  Sudah kau tidurlah.” Arya mencium kening putranya.

DMN

Kesehatan Sandika memburuk, karena sudah berbulan-bulan ia mencari Andira dan putrinya, tapi tak sedikitpun ia menemukan jejaknya. Sudah hampir putus asa dirinya, semakin lama semakin tenggelam kewarasannya dalam perasaan bersalah.
“ARK… PERGI KALIAN SEMUA, PERGI DARI RUMAHKU, TAK ADA TEMPATUNTUK KALIAN, RUMAH INI HANYALAH UNTUKKU, ANDIRA DAN PUTRIKU. PERGI KALIAN SEMUA!” Sandika berteriak-teriak mengusir orang-orang disekelilingnya.
“Sandika sayang dengarkan mama, istigfar nak, ingat Allah, waraskan pikiranmu dan hatimu. Ingat nak, ingat Allah nak.” Mamanya Sandika berusaha menenangkan Sandika.
“Pergi semuanya, jika kalian disini maka Andira tak  akan datang kepadaku, pergi kalian.” Sandika menangis, begitu sedih dirinya kehilangan Andira.

“Halo Sayang, gimana kabarmu?”
“Untuk apa kau datang kemari?”
“Ya tentu saja untuk menemui kekasih hatiku.”
“Hah? Kekasih hatimu? Siapa?”
Sandika memeluk Andira, “Sayang, jangan marah dong, aku kan jarang menemui dan menghubungi karena aku sibuk kerja untuk masa depan kita.”
“Masa depan kita? Masa depan yang mana maksudmu? Kalau kau terus seperti ini kita tak akan pernah punya masa depan San.” Mata Andira mulai berkaca-kaca.
“Ohh sayang, maafkan aku, aku berjanji padamu, dalam keadaan apapun aku akan bersamamu, tak akan kecewakanmu apalagi meninggalkanmu.”
“Jangan berjanji kalau tak bisa menepatinya, kau bisa mati karena menyesal nanti jika tak bisa memenuhi janjimu.”
“Aku berjanji sayang, dalam keadaan apapun aku akan bersamamu, tak akan kecewakanmu apalagi meninggalkanmu.” Sandika mencium kening Andira.” Sayangku, jangan pernah teteskan air mata dipipimu yang manis ini, janji kepadaku kau tak akan pernah menangis, ya, kau janji?”
“Ya aku berjanji.” Andira memeluk Sandika erat.

“Ya Allah aku telah mengingkari janjiku dulu pada kekasihku, menyesal diriku.” Gumam Sandika dalam tangisnya.

DMN

SANG ELANG

“Selamat datang kepada semua peserta ujian. Silahkan persiapkan diri kalian dan tunggu di ruang tunggu dengan tertib.” Suara serak yang keluar dari toak mencuri perhatian semua orang.

“Afdal apa semuanya sudah siap?”
“Sudah Bang Arya, kita bisa segera memulainya setelah menerima laporan dari Bima, Puja, Ajak dan Cendil.”
“Baik segera hubungi mereka apakah acara sudah bisa dimulai.”
“Baik bang.” Afdal segera menghubungi teman-temannya yang mendapat tugas dilapangan.
“Saya tinggal dulu ya.” Arya pergi meninggalkan Afdal diruang monitor sendirian.
 Segera setelah samapi diruangannya tiba-tiba saja Arya ingin membuka emailnya dulu,mungkin seseorang ada yang mengirimkannya sesuatu.

“Loh kok ini email dari Andira?”

from : Andira sang burung elang
to : Rajamu sang pendekar

selamat ulang tahun pendekar, ah andai saja kau masih Raja Sang pendekar, ingin aku menangis didadamu dan meminta kau memelukku.

“Ini tanggal 10 dua bulan lalu.”


from : Andira sang burung elang
to : Rajamu sang pendekar

Raja, andai kau lihat pertumbuhan putriku, ia cantik sekali, begitu lincah dan begitu penyayang, tak pernah sedikitpun ia membuatku marah. Namanya Nadira, andai Sandika bisa memberikan namanya. Bagaimana kabar Dekha?

Ingin aku kembali kesana, demi putriku, bagaimana kabar Sandika? Bagaimana kabar program padepokan saba?

Ah aku terlalu banyak bertanya ya,,, ^_^

“Ini dua minggu lalu? Apakah Andira akan kembali?” Arya segera menutup emailnya dan mematikan komputernya.
“Ayah, dipanggil kakak Afdal.” Suara Dekha memanggil dari depan pintu.
“Iya sayang ayah akan segera kesana.”
Arya segera meninggalkan ruangannya.

“Bang, aku melihat sesuatu.” Ucap Afdal ketika Arya sampai diruang monitor.
“Apa yang kau lihat?”
“Kak Andira, sekilas tadi aku melihatnya berada di aula.”
“Hah? Benarkah itu? Cepat cari dia. Mungkin saja itu dia.”
Afdal segera mencari dengan detail melalui cctv. “Oh ya bang, acara sudah bisa dimulai.”
“Baik aku akan ke aula, kabari aku jika melihat Andira lagi.”


DMN

“ah apakah benar itu Andira? Mengapa ia tak menemuiku” gumam arya ketika acara selesai.
“bang ada surat, tadi dititip sama abang-abang di depan.” Afdal menyerahkan selembar kertas.
“Surat?” segera Arya membacanya.

Arya, aku sangat merindukan Sandika, tapi rasanya hatiku masih tak terima pada tuduhannya, kau hanya laki-laki yang kuanggap saudara laki-lakiku, karena itu rasanya aku tak bisa melepaskan begitu saja.
Arya aku tak sanggup menahan rinduku pada Sandika, sampaikan padanya aku akan kembali, ya aku akan segera kembali, aku ingin anakku punya ayah.


“Ya Andira, kembalilah, kau lebih baik bersamanya daripada sendiri tanpa siapapun.”

No comments:

Post a Comment