Pria Misterius


Pagi itu tiba-tiba saja tetangga belakang rumah pindah, padahal sebelumnya tak ada kabar soal kepindahan tersebut tapi entah mengapa mereka pindah tiba-tiba.
"Iya kami juga sebenarnya berat meninggalkan rumah ini, tapi ya terpaksa."
"Terpaksa kenapa bu?"
"Pemiliknya yang baru membeli rumah kami dengan nilai yang bisa merubah hidup kami menjadi lebih baik."
"Oh, ya bagus bu, semoga ditempat ibu yang baru bisa menyenangkan ya bu."
"Iya neng, Terima kasih."
Aku pergi setelah mengucapkan perpisahan dengan tetanggaku yang dari kecil sudah kukenal. Aku jadi penasaran mengenai siapa yang membeli rumah itu, mengapa ia mau membeli rumah biasa dengan harga mahal, pasti ada maksud tertentu.

Sorenya beberapa orang datang kerumah itu, membawa bahan-bahan bangunan dan beberapa orang berpenampilan seperti kuli.

"Ma, mereka itu siapa?"
"Mungkin suruhan orang yang beli rumahnya Bu Eli."
"Mama tau siapa yang membeli rumah itu?"
"Mama sudah tanya beberapa tetangga katanya belum pernah ada yang melihatnya, rumornya dia masih muda."
"Oh." Aku mendekati salah seorang yang terlihat seperti pimpinan kuli-kuli itu.
"Sore Pak, mau direnov Pak rumahnya?"
"Sore mbak, iya saya disuruh desain ulang, kalo perlu dibangun ulang."
"Oh, orang kaya ya pak yang beli?"
"Ya kayanya gitu mbak, rumah kaya gini aja dibeli mahal banget. Udah kaya masih muda lagi."
"Oh begitu."
"Waduh maaf nih mbak saya keceplosan, harusnya saya gak boleh bicara apa-apa."
"Hihihi, saya akan jaga rahasia bapak, saya tinggal dibelakang rumah jadi gak papalah tau sedikit soal tetangga baru."
"Iya mbak, permisi saya harus sudah mulai kerja, dalam 2 minggu sudah harus jadi."
"Wah, kalau gitu silahkan pak dilanjutkan, saya yang permisi."
Aku memang tertarik sih dengan tetangga baru, bikin penasaran, katanya masih muda dan kaya, tapi kok gak mau diungkap jati dirinya ya, tapi aku tak ambil pusing, bahkan tak pernah lagi aku menengok pembangunan rumah itu, kata mama sih sudah mau selesai. Berarti bagus juga ya kontraktornya.
Seminggu kemudian mama diundang selametan rumah berlantai 3 itu, katanya tak sedikit yang diundang, beberapa warga dari rt lain dan tamu dari luar kota juga hadir, em makin menarik saja kasus ini, siapa sebenarnya orang kaya itu?
"Ma gimana acaranya?"
"Em Makanannya enak-enak semua, ada tuh didapur, bahkan orang2 se rt dapat lebih makanannya."
"Apa yang punya rumah datang? Aku penasaran siapa sih yang beli rumah Bu Eli."
"Kayanya yang punya rumah gak dateng deh, tadi juga yang kasih sambutan cuma pegawainya."
"Lah aneh banget."
Sudah sebulan tidak ada kegiatan dirumah itu, rumah yang tadinya bikin orang berkesan termasuk diriku, sekarang tampak suram karena tak ada yang menempati. Baru pada bulan kedua, beberapa orang datang. Mengaku akan membersihkan rumah itu sekaligus mengatur perabotannya. Entah mengap mereka mengajakku terlibat kali ini, padahal sudah beberapa kali aku menolaknya, mereka tetap memaksa.
Rumah itu tiba-tiba saja menjadi tempat favoritku, perabotannya, desainnya terutama kamar utamanya, begitu besar, mewah dan atapnya bisa terbuka, benar-benar menjadi favoritku. Malam setelah membereskan perabotan dirumah itu, aku dan orang-orang yang datang membantu disambut diruang tengah, dihidangkan makanan enak sampai kami tak bisa menolak untuk tak makan lagi. Ada yang mengganggu hatiku, dirumah itu hanya ada lukisan, tapi tidak ada foto. Mungkin foto pertama yang akan dipajang adalah foto kami, karena setelah kami selesaika tugas kami, kami dipotret beberapa kali dan diberitahu bahwa akan dipajang dirumah itu.
Tiga bulan kemudian terjadi hal aneh, beberapa orang berseragam polisi datang kerumah itu, memeriksa setiap jengkal dari rumah itu, diduga pemiliknya adalah penjahat lelas kakap. Aku kaget dengan berita itu karena setiap bulanwarga sekitar selalu menerima hadiah-hadiah dari pemilik rumah tersebut. Saya rasa pemiliknya tentu bukan seorang penjahat, mana ada penjahat menarik perhatian seperti itu, dengan membangun rumah mewah dan membagi-bagikan hadiah. Tapi mungkin saja kalau dia seorang yang eksentrik.
Setelah kejadian itu tak ada lagi peristiwa yang menarik perhatianku, saat ini sedang genting aku hampir kehilangan pekerjaanku setelah perusahannya dijual. Aku dipindah tugaskan dari administrasi menjadi manager diluar kota, tak lama tapi hanya beberapa bulan, setelah itu tak tau bagaimana nasibku.
"Selamat pagi bu, ibu dipanggil ke kantor pusat, ibu diminta membawa semua barang pribadi."
" Mendadak sekali ya mbak."
"Iya bu, ibu hanya punya waktu 3hari untuk menghadap bapak."
"Ya baik tiga hari lagi saya akan menghadap bapak."
Perasaan aneh menghinggapi diriku, kejadian-kejadian tak masuk akal selama beberapa bulan ini menjadi lintasan ingatan dipikiranku. Rumah itu, pekerjaan, dan sekarang pemilik baru perusahaan ingin bertemu denganku.
"Kok dadakan sekali kamu pulangnya?"
"Iya ma, dipanggil kantor pusat, entah dipindahkan atau... Dipecat."
"Ya semoga hal baik yang terjadi."
"Ya ma aku mau istirahat dulu, besok pagi aku mau langsung ke kantor pusat."
Malam itu aku benar-benar tak bisa tidur, pikiranku kacau, entah apa yang aku rasakan, aneh saja pokoknya.
"Pagi bu, ibu sudah ditunggu didalam."
"Terima kasih mbak."
Aku berjalan pelan keruangan yang ditunjukan sekretaris tadi. Rasanya benar-benar tegang, belum pernah aku seperti ini.
"Selamat datang Nona Raisa Marwan atau saya panggil dengan Mara."
Aku terkejut dengan kata "Mara." Nama itu hanya seorang yang tau, teman lama, sangat lama mungkin sudah 10rahun aku tak bertemu dengannya, Raka Arya.
"Maaf panggil saja saya Raisa."
"Aku lebih suka memanggilmu Mara."
"Raka?"
"Ya ini aku."
Aku sampai menutup mulutku dengan tangan, terkejut karena orang yang aku temui adalah Raka.
"Mengapa terkejut seperti itu?"
"Kemana saja kau Raka selama 10tahun ini, menghilang begitu saja."
Raka memelukku dari belakang, "aku selalu ada dihati kamu selama 10tahun ini kan?"
"Lepaskan, nanti ada yang melihat." Aku melapaskan pelukkannya dan mengambil jarak.
"Siapa yang akan melihat? Tak kan ada yang berani melihat, aku bosnya. Hahaha."
"Jadi kau bos?"
"Ya tentu saja, bukankah ini yang kau inginkan untukmu, menjadi kaya, dipandang, baik hati."
Aku terdiam, apa yang dia katakan adalah ucapanku dulu sebelum dia menghilang.
"Apa maksudmu?"
"Hanya menunjukkan kalau aku mampu jadi laki-laki seperti yang kau inginkan."
Aku terkejut dengan kata-katanya, sampai  berdiriku juga goyah.
"Mengapa diam? Aku sudah membelikan kau rumah dan perusahaan ini, sekarang aku pantas menjadi suamimu kan?"
"Raka, dulu bukan maksudku berkata seperti itu, maksudku adalah..."
Belum aku menyelesaikan ucapanku Raka sudah berteriak.
"Apa maksudmu selain itu? Selain kau mengatakan aku tidak pantas untukmu?"
"Bukan itu maksudku, maksudku kau bisa bertemu dengan gadis manapun yang kau suka yang juga menyukaimu, yang menyayangimu."
"Bukankah kau menyukaiku, menyayangiku?"

"Kenapa Raisa kau lesu begitu? Kabar buruk kah yang kau terima?"

"Huh..." Aku benar-benar harus menarik napas panjang, "Bukan kabar buruk maupun baik. Entah bagaimana aku harus mengatakannya."

"Ya sudah kau istirahat saja kalau begitu, kau terlihat pucat sekali."

"Ya aku rasa, aku butuh istirahat panjang."

"Oh iya tadi ada bingkisan, entah apa, cukup besar, mama suruh orang menaruh langsung dikamarmu."

Bingkisan? Raka? Apalagi yang kau lakukan? Seperti inilah balasanmu padaku?
Setibanya dikamar Raisa langsung membuka bingkisan di meja riasnya, sebuah kotak beludru berwarna merah dan berpita emas.

"Apa ini? Mewah banget. Perhiasan? Pasti dari Raka, bagus banget."

Aku tak tau harus bilang apalagi, habis kata-kataku, perempuan mana yang tak suka diberi seperangkat perhiasan berhias batu rubi, gelang, kalung, anting. Aku terkagum-kagum dengan perhiasan itu tapi aku bahkan takut menyentuhnya. Aku menemukan secarik kertas dibawah kotak itu.

"Dear Mara, ini sebagai pengganti sedikit kebaikan hatimu yang dari dulu belum pernah aku balas, tapi ini bukan yang terakhir, ini hanya awal saja. Sisa umur hidupku hanya untukmu, tunggu kejutan selanjutnya ya Mara. Raka." Aku menghela napas panjang, entahlah harus bereaksi apalagi, aku menatap perhiasan itu, ya seperti itulah perhiasan yang selalu aku inginkan, tapi ini dari Raka.

Malam itu seperti kilas balik keadian-kejadian masa lalu, masa 10 tahun yang lalu ketika Raisa dan Raka sama-sama jatuh cinta tapi tak saling menyadarinya, masa-masa mereka masih merasa muda dan sering berbuat salah, sering juga salah jalan dan merasa bingung. Sayangnya mereka berdua berbuat salah terlalu besar, tak bisa dimaafkan dan mereka tak bisa memutar waktu maupun meliihat kebelakang.

"Mara, ini hadiah untukmu."
"Hadiah untuk apa?"
"Kebaikan hatimu, membantuku mendapatkannya."
Raka kau sangat menghancurkan hatiku saat itu, hadiah darimu seperti racun yang sengaja kau berikan agar aku cepat-cepat mengakhiri hidupku.
"Oh."
"Hanya Oh? Itu saja yang bisa kau katakan?"
"Ya hanya Oh."

"Pagi Mara."
"Pagi Raka, ada apa?"
"Siapa itu di status facebookmu, siapa yang kau maksud?"
"Laki-laki, yang pasti bukan dirimu."
"Oh."
"Hanya Oh?"
"Gak hanya Oh, siapa orangnya?"
"Mungkin kalau kau tau kau tak akan menyukainya, jadi lebih baik tak usah kau mengetahuinya."

Pagi datang, tak seperti hari-hari seblumnya yang selalu membuatku  bersemangat, kali inimembuat aku tak mengenali siapa diriku, siapa orang-orang yang aku kenal dan rasanya aku melupakan banyak hal.

"Raisa bangun, tetangga sebelah sudah mulai pindah."
"Tetangga sebelah mana sih ma?"
"Itu yang dibelakang rumah, yang rumah mewah."
"Oh, aku harap mereka tak pernah pindah."
"Kau bicara apa?"
"Tidak apa, aku mau mandi."

Aku sama sekali tak tertarik, kalau bisa aku yang pindah dari rumah ini supaya tak bertemu mereka.
"Raisa kamu kenal mereka ya? Mereka bilang sangat ingin bertemu denganmu."
"Aku tak kenal."
"Lantas darimana mereka tau kamu?"
"Raka."
"Dari siapa?"
"Entahlah. Ma apa kemarin ada alamat pengirim paket?"
"Tidak, kurirnya suruhan bosnya katanya."
"Baiklah."
Aku memang menyukai perhiasan itu tapi aku tak bisa menerimanya begitu saja, mungkin aku harus mengunjungi tetangga baru.

"Selamat siang."
"Siang, Kamu Raisa kan? Kami sudah menunggumu." Aneh sekali dalam sekejab rumah ini tampak mengerikan untukku, sebuah foto ku, Raka dan beberapa orang temanku terpajang besar disana. "Foto ini?"
"Ini Permintaannya Raka, katanya kau selalu jadi perempuan tercanti dalam foto ini padahal kan memang kau perempuan sendiri difoto ini."
"Tante saya mau bertemu Raka."
"Raka tak akan tinggal disini, ia tinggal dirumah lama kami."
"Aneh."
"Raka akan tinggal disini jika kau juga tinggal dirumah ini, kau menyukai rumah ini kan?"
Aku hanya tersenyum, lalu memberikan paket yang dikirimkan Raka untukku. "Saya tak bisa menerima pemberian ini, saya bukan perempuan pemburu harta. Maaf." Segera aku meninggalkan rumah itu, rasanya berjalan 20 meter menjadi 20 kilometer kala itu.

Aku sudah memutuskan menghindar dari Raka, aku berhenti datang untuk bekerja maka hari ini dan waktu tak tentu aku bebas mau kemana saja. Olahraga renang pilihanku kali ini. 

"Raisa, kenapa kamu tidak mencari pekerjaan lagi, sudah sebulan kamu dirumah saja kan."
"Ya Ma, Raisa coba cari pekerjaan atau bikin usaha mungkin."
"Oh ya usaha apa?" 
"Belum tau, sedang memikirkan beberapa masukan dari teman."
" Oh, ya Mama doakan selalu yang terbaik untuk kamu Raisa."
"Ada berita apa hari ini Pa?" Aku melihat Papa pagi ini serius membaca koran.
"Ini ada pengusaha muda, kayanya papa kenal."
"Siapa?" Aku buru-buru mendekatkan diri ke Papa dan ikut melihat koran. Terdekat rasanya melihat foto Raka disitu, dengan tagline, Muda, Sukses dan Siap menjadi Pemimpin. Langsung aku menjauh dari papa dan kembali makan sarapanku.

Sms masuk ke hpku. Lekas ku buka yang ternyata dari Raka, "Bagaimana sudah baca koran hari ini? Semua yg aku raih buat kau saja Mara." Sungguh Raka sangat membuatku tidak nafsu makan. Aku balas sms Raka. "Harta bisa kau cari tapi tidak dengan perasaan kasih dan kepercayaan." Aku tertawa sedikit pastilah Raka marah besar ketika membaca ini.
"Raisa kenapa ketawa-ketawa sendiri?"
"Gak ada apa-apa kok Pa. Ini teman sms sesuatu yang lucu."
Satu pemberitahuan sms masuk. "Tak perlu aku mencari perasaan kasih dan kepercayaan, aku sudah menemukannya pada dirimu."
Tanggapan Raka tak sesuai dengan yang aku harapkan. "Sayangnya perasaan kasih dan kepercayaan sudah kau sia-siakan dahulu, kau kira aku butuh harta nyatanya aku butuh seorang pelindung." Terkirim
Dengan cepat masuk 2 sms sekaligus, "Apalah artinya pelindung tanpa tempat berlindung, tanpa harta, bukan ini yang dulu kau minta?" Aku benar-benar menarik napas panjang, "Aku yakin suatu saat kau pasti yang datang dan minta pertolongan dari ku."
Singkat saja aku balas "Tidak, terima kasih."
Satu lagi sms masuk, "Hai Raisa, apa kabar? Saya Teja, masih ingat?" Teja siapa ini kok tau namaku?
"Maaf Teja siapa ya?"
Raka kembali mengirim sms "Kau pasti datang dan meminta perlindungaku Mara." 
Teja sms kembali, "Kau sudah melupakanku? Teja teman kuliah dulu."
Aku ingat sekarang, Teja salah seorang teman di fakultas yang selalu ramah menyapaku. "Ah aku ingat, Teja. Apa kabarmu? Sejak lulus tak ada kabar."
Raka sms kembali, "Kau bisa mengabaikan smsku tapi tidak dengan perasaanmu." Ini Raka maunya apa sih. Segera aku balas, "Ya dulu aku sayang dan percaya padamu, tapi apa, disia-siakan, tak akan ada lagi cerita baru diantara kita. Jangan ganggu hidup saya."
Teja membalas pesanku, "Alhamdulillah baik, pengen ketemu nih, bertukar cerita, kapan ada waktu?" Wah Teja kok tau-tau mengajak bertemu?  "I am free, kapan saja bisa."
"Raisa makan dulu jangan main hp saja." Omel mama.
"Ma hari ini jalan-jalan yuk, boleh ya Pa?"
"Silahkan saja sayang, Papa pergi kerja dulu ya."
Mama dan Papa meninggalkanku dimeja makan.
Satu sms masuk, "Hari ini jam makan siang, biar aku jemput saja kamu gimana? Mau bertemu dimana?"
"Ma, gak jadi jalan-jalan deh, ada yg ngakak jalan." Engah mengapa rasanya senang Teja mengajak bertemu.
"Jemput saja di terminal dekat kampus." Aku segera mengirimnya dan menghabiskan makananku.
Teja tiba-tiba saja menelepon. "Assalammualaikum Raisa, nanti saya jemput kerumah kamu sajalah, saya kebetulan sedang senggang juga, baru balik dinas luar kota jadi libur beberapa hari, gimana?"
"Waalaikum salam, baiklah nanti aku kirim alamatnya ya. Wah sudah jadi orang sibuk ya sering dinas luar kota?"
"Ah tidak juga. Berapa lama kerumahmu dari kampus?"
"Hampir 2 jam."
"Oh ya, segera kirim alamatmu biar saya tidak telat."
"Baik"

No comments:

Post a Comment